Jakarta (ANTARA) - Memiliki tato merupakan gaya yang dipilih beberapa orang untuk mengekspresikan makna pribadinya, namun ada konsekuensi interaksi biologis yang jarang diperhatikan.
Ditulis laman Science Alert, Minggu (4/1), Dosen Senior Mikrobiologi Medis Universitas Westminster Manal Mohammed mengatakan setelah tinta tato masuk ke dalam tubuh di bawah kulit, pigmen tato berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh dengan cara yang baru mulai dipahami oleh para ilmuwan.
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pigmen tato yang umum digunakan dapat memengaruhi aktivitas imun, memicu peradangan, dan mengurangi efektivitas vaksin tertentu.
Para peneliti menemukan bahwa tinta tato diserap oleh sel-sel kekebalan di kulit. Ketika sel-sel ini mati, mereka melepaskan sinyal yang membuat sistem kekebalan tetap aktif, menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening di dekatnya hingga dua bulan.
Tinta tato adalah campuran kimia yang kompleks. Tinta ini mengandung pigmen yang memberikan warna, cairan pembawa yang membantu mendistribusikan tinta, pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroba, dan sejumlah kecil pengotor.
Banyak pigmen yang saat ini digunakan awalnya dikembangkan untuk aplikasi industri seperti cat mobil, plastik, dan toner printer, bukan untuk disuntikkan ke kulit manusia.
Beberapa tinta mengandung sejumlah kecil logam berat, termasuk nikel, kromium, kobalt, dan terkadang timbal. Logam berat dapat bersifat toksik pada kadar tertentu dan dikenal dapat memicu reaksi alergi dan sensitivitas imun.
Mohammed mengatakan proses tato melibatkan penyuntikan tinta jauh ke dalam dermis, lapisan kulit di bawah permukaan. Tubuh mengenali partikel pigmen sebagai benda asing lalu sel-sel kekebalan tubuh mencoba untuk menghilangkannya, tetapi partikel tersebut terlalu besar untuk dibersihkan sepenuhnya.
Sebaliknya, partikel tersebut terperangkap di dalam sel-sel kulit, yang membuat tato menjadi permanen.
Dari penelitian tersebut menunjukkan pigmen tato dapat mengganggu sinyal imun, yaitu sistem komunikasi kimia yang digunakan sel imun untuk mengoordinasikan respons terhadap infeksi atau vaksinasi, dalam kondisi tertentu.
Tinta tato juga dapat mengandung senyawa organik, termasuk pewarna azo dan hidrokarbon aromatik polisiklik yang banyak digunakan dalam tekstil dan plastik.
Dalam kondisi tertentu, seperti paparan sinar matahari yang berkepanjangan atau selama penghapusan tato dengan laser, zat warna ini dapat terurai menjadi amina aromatik. Senyawa kimia ini telah dikaitkan dengan kanker dan kerusakan genetik dalam studi laboratorium.
Saat ini, belum ada bukti epidemiologis yang kuat yang menghubungkan tato dengan kanker pada manusia. Namun, studi laboratorium dan hewan menunjukkan potensi risiko. Pigmen tato tertentu dapat terdegradasi seiring waktu, atau ketika terpapar sinar ultraviolet atau penghapusan tato laser, membentuk produk sampingan yang beracun dan terkadang karsinogenik.
Bagi kebanyakan orang, tato tidak menyebabkan masalah kesehatan serius, tetapi bukan berarti tanpa risiko. Tato memasukkan zat ke dalam tubuh yang tidak pernah dirancang untuk berada dalam jangka panjang di jaringan manusia, beberapa di antaranya dapat bersifat toksik dalam kondisi tertentu.
Seiring tato menjadi lebih besar, lebih banyak, dan lebih berwarna, total beban kimia meningkat. Dikombinasikan dengan paparan sinar matahari, penuaan, perubahan kekebalan tubuh, atau penghapusan dengan laser, beban ini dapat memiliki konsekuensi yang belum sepenuhnya terungkap oleh sains.
