
Gula dan garam berlebih picu masalah kulit

Jakarta (ANTARA) - Dokter ahli dermatologi mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi sewaktu berbuka puasa maupun sahur bisa menyebabkan kulit kehilangan hidrasi, sehingga menjadi lebih kering.
"Mengonsumsi diet tinggi garam dan tinggi gula itu akan membuat sel tuh kehilangan air, jadi lebih kering, skin barrier-nya juga terganggu," kata dermatolog Dr. dr. Fitria Agustina, Sp.DVE dalam acara diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis.
"Ini sebetulnya akan memperburuk kondisi, dengan nama multi-layer hydration loss," lulusan pendidikan spesialis dermatologi dan venereologi Universitas Indonesia itu menambahkan.
Dia menyampaikan bahwa masalah kulit seperti munculnya jerawat bisa terjadi pada pekan awal puasa, ketika tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan dan minum, yang berdampak pada hidrasi.
Ketika tubuh tidak mendapatkan cukup cairan, ia mengatakan, kondisi lapisan pelindung kulit bisa terganggu.
"Keluhan jerawat sering banget pada fase puasa itu di minggu pertama atau bahkan mungkin pertengahan minggu kedua karena hidrasi yang kurang," kata dr. Fitria.
"Hidrasi yang kurang itu akan berpengaruh terkait dengan skin barrier-nya, kulitnya jadinya akan lebih kering," kata dia.
Menurut dia, gangguan pada lapisan pelindung kulit juga memengaruhi keseimbangan mikrobioma pada kulit. Kalau mikroorganisme alami pada kulit dalam keadaan tidak seimbang atau mengalami disbiosis, maka jerawat dan masalah kulit yang lain berpeluang muncul.
"Enggak cuma jerawat, bisa lain yang dasarnya inflamasi, misalnya pada dermatitis atopik yang memang flare up-nya di wajah, atau rosacea, kondisi yang menyerupai jerawat, atau kondisi psoriasis, itu bisa jadi flare-up kalau memang kita tidak menjaga hidrasi kulit kita dengan baik, karena skin barrier-nya terganggu," ia memaparkan.
Dokter Fitria menyampaikan bahwa mengonsumsi gorengan berlebihan dapat meningkatkan peluang munculnya jerawat.
Ia mengatakan, tepung yang digunakan untuk membuat gorengan termasuk sumber karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi yang berisiko memicu lonjakan insulin.
"Karbohidrat olahan seperti tepung itu akan membuat insulin peak-nya tuh tinggi pada saat kita buka puasa, akan berpengaruh terhadap kadar IGF-1, akan berpengaruh terhadap kerja dari sebosit, kelenjar minyak, menghasilkan minyak lebih banyak," ia menjelaskan.
Selain itu, menurut dia, kandungan minyak pada gorengan bisa memengaruhi produksi hormon seperti androgen, yang memengaruhi aktivitas kelenjar minyak pada kulit.
"Androgen juga salah satu hormon yang berteman dalam mempengaruhi kerja dari sebosit atau kelenjar minyak ini," katanya.
Oleh karena itu, dia mengatakan, sebaiknya tidak mengonsumsi terlalu banyak gorengan pada saat berbuka puasa.
"Bukan enggak boleh buka puasa pakai gorengan, tapi jangan banyak-banyak, diusahakan gorengannya dikeringin dulu," katanya.
Dokter Fitria menekankan pentingnya memperhatikan asupan cairan dan nutrisi agar kulit tetap sehat selama menunaikan ibadah puasa.
Pengaturan minum bisa dilakukan dari waktu berbuka puasa sampai sahur agar jumlah cairan yang dikonsumsi setidaknya delapan gelas sehari.
Dokter Fitria menyarankan pemilihan makanan bergizi yang tidak terlalu tinggi garam dan gula untuk berbuka puasa maupun sahur guna memenuhi kebutuhan gizi.
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
