
Perbaikan program MBG untuk perkuat sistem pangan nasional

Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperbaiki untuk memperkuat sistem ketahanan pangan nasional.
Deputi Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen TNI (Purn) Suardi Samiran menegaskan Program MBG terus diperkuat, karena menjadi investasi jangka panjang untuk sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas.
"Program MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan inovasi strategis untuk meningkatkan potensi kognitif anak dan memperkuat sistem ketahanan pangan nasional," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Suardi menambahkan akses terhadap makanan sehat di sekolah menjadi fondasi bagi lahirnya generasi yang unggul dan kompetitif secara global.
Sementara itu, secara terpisah, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), Molly Prabawati mengemukakan Program MBG memang belum dirasakan manfaatnya untuk masyarakat di perkotaan, tetapi untuk wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T), program ini benar-benar menjadi tumpuan masyarakat, utamanya anak-anak.
"Indonesia luas, terdiri atas lebih dari 17 ribu pulau. Ada di kota besar dan pelosok-pelosok, termasuk 3T. Kondisi ini menjadi tantangan buat masyarakat di perkotaan. MBG mungkin dirasakan kurang mengena buat masyarakat perkotaan, tetapi bagi anak-anak kita yang berada di pelosok dan daerah 3T, tentu sangat membutuhkan MBG," ucap Molly.
Ia menegaskan untuk membangun Generasi Emas 2045, Indonesia perlu menyiapkan anak-anak Indonesia yang tercukupi gizinya. Oleh karena itu, MBG betul-betul dibutuhkan oleh mereka yang duduk di bangku sekolah agar bisa membantu meningkatkan fokus saat belajar.
"Saya yakin MBG ini sangat dibutuhkan karena mereka ke sekolah, sudah disiapkan MBG-nya, supaya bisa berpikir jernih, jadi kita sangat terbantu, ibu-ibu juga tercukupi kebutuhannya," katanya.
Molly menegaskan pendekatan MBG kepada anak-anak sekolah dan penerima manfaat lainnya, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) memang berbeda-beda.
"Strategi komunikasi bagi berbagai segmen, mulai dari ibu menyusui, balita, itu kita buat per segmen. Lalu dengan informasi-informasi sederhana, juga dukungan ahli gizi yang memberikan narasi lengkap, perlu dilakukan agar masyarakat lebih memahami, karena ini adalah salah satu program prioritas pemerintah yang sangat populer di tengah masyarakat," tuturnya.
Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
