Produksi Kayu Bulat Barito Utara 18.906 Batang
Kamis, 10 Juli 2014 20:34 WIB
Kayu bulat/Ilustrasi. (ANTARA/Untung Setiawan) Istimewa
Muara Teweh (Antara Kalteng) - Produksi kayu bulat hasil tebangan perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, periode Januari sampai Juni 2014, mencapai 105.350,85 meter kubik atau 18.906 batang.
"Kayu produksi sejumlah perusahaan itu terdiri atas jenis meranti, rimba campuran dan kayu indah," kata Kepala Bidang Bina Produksi Kehutanan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Barito Utara, Jawawi di Muara Teweh, Kamis.
Jawawi merinci produksi kayu bulat jenis meranti sebanyak 104.331,74 meter kubik (m3) atau 18.687 batang, rimba campuran 872,54 m3 (193 batang) dan kayu indah 146,57 m3 (26 batang).
Ribuan meter kubik kayu bulat itu merupakan hasil tebangan perusahaan di kawasan hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi (HP), di antaranya perusahaan PT Austral Byna, PT Bina Multi Alam Lestari, PT Indexim Utama Corp, PT Sindo Lumber, PT Wana Inti Kahuripan Intiga, PT Timber Dana dan PT Dasa Intiga.
"Meski jumlah perusahaan yang bergerak di sektor perkayuan itu mencapai puluhan, namun saat ini hanya sembilan perusahaan yang masih memproduksi kayu bulat," kata Jawawi didampingi Kepala Seksi Produksi, Muhammad Tarmidji.
Sebelum perusahaan itu membawa atau menjual kayu tersebut keluar daerah, perusahaan tersebut diwajibkan membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).
Dia mengatakan sejumlah industri perkayuan di daerah itu dalam enam tahun terakhir sudah tidak melakukan kegiatan lagi karena kayu yang mereka cari sulit didapatkan.
"Sebagian besar perusahaan sudah tutup karena kesulitan bahan baku kayu bulat karena ketatnya peraturan pemerintah terhadap kegiatan kehutanan tersebut," ujarnya.
Produksi kayu bulat Barito Utara selama 2013 mencapai 299.112,88 m3 atau 55.260 batang meningkat dibanding 2012 yang mencapai 192.774,01 m3 atau 37.133 batang.
(T.K009/B/A039/A039)
"Kayu produksi sejumlah perusahaan itu terdiri atas jenis meranti, rimba campuran dan kayu indah," kata Kepala Bidang Bina Produksi Kehutanan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Barito Utara, Jawawi di Muara Teweh, Kamis.
Jawawi merinci produksi kayu bulat jenis meranti sebanyak 104.331,74 meter kubik (m3) atau 18.687 batang, rimba campuran 872,54 m3 (193 batang) dan kayu indah 146,57 m3 (26 batang).
Ribuan meter kubik kayu bulat itu merupakan hasil tebangan perusahaan di kawasan hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi (HP), di antaranya perusahaan PT Austral Byna, PT Bina Multi Alam Lestari, PT Indexim Utama Corp, PT Sindo Lumber, PT Wana Inti Kahuripan Intiga, PT Timber Dana dan PT Dasa Intiga.
"Meski jumlah perusahaan yang bergerak di sektor perkayuan itu mencapai puluhan, namun saat ini hanya sembilan perusahaan yang masih memproduksi kayu bulat," kata Jawawi didampingi Kepala Seksi Produksi, Muhammad Tarmidji.
Sebelum perusahaan itu membawa atau menjual kayu tersebut keluar daerah, perusahaan tersebut diwajibkan membayar Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).
Dia mengatakan sejumlah industri perkayuan di daerah itu dalam enam tahun terakhir sudah tidak melakukan kegiatan lagi karena kayu yang mereka cari sulit didapatkan.
"Sebagian besar perusahaan sudah tutup karena kesulitan bahan baku kayu bulat karena ketatnya peraturan pemerintah terhadap kegiatan kehutanan tersebut," ujarnya.
Produksi kayu bulat Barito Utara selama 2013 mencapai 299.112,88 m3 atau 55.260 batang meningkat dibanding 2012 yang mencapai 192.774,01 m3 atau 37.133 batang.
(T.K009/B/A039/A039)
Pewarta : Kasriadi
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Barito Utara
Lihat Juga
Pelantikan pejabat dikeluhkan, Shalahuddin sebut media tetap bisa akses informasi
04 May 2026 14:07 WIB