Benarkah puasa bantu lawan obesitas?
Senin, 27 Mei 2019 15:40 WIB
Ilustrasi (Pixabay)
Jakarta (ANTARA) - Berpuasa bisa membantu seseorang melawan risiko terkena obesitas, menurut sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Texas’ Baylor College of Medicine.
Dr. Ayse Leyla Mindikoglu, profesor kedokteran dan bedah di Texas 'Baylor College of Medicine, seperti dilansir Medical Daily belum lama ini menemukan berpuasa membantu melawan efek dari diet kaya lemak dan gula.
Untuk sampai pada temuan ini, dia dan tim mempelajari 14 orang sehat yang berpuasa setiap hari selama 15 jam. Saat berpuasa, para peserta tidak mengkonsumsi makanan atau minuman.
Para peneliti lalu mengambil sampel darah peserta studi pada awal puasa. Mereka juga mengambil sampel darah peserta setelah 4 minggu beruasa.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tropomyosin 1, 3 dan 4. Tropomyosin, jenis protein yang dikenal untuk mengatur kontraksi jantung dan otot rangka. Protein ini juga membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.
"Makan dan puasa dapat secara signifikan mempengaruhi cara tubuh membuat dan menggunakan protein yang penting untuk mengurangi resistensi insulin dan mempertahankan berat badan yang sehat," kata Mindikoglu.
Studi tentang puasa muncul dalam beberapa tahun terakhir dan memperlihatkan sejumlah manfaat salah satu kewajiban muslim itu pada kesehatan.
Sebagai contoh, satu studi menunjukkan, membatasi asupan makanan dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dan bahkan dapat membantu melawan penuaan.
Ada studi yang menemukan puasa bermanfaat meningkatkan kesehatan usus dan memperkuat ritme sirkadian.
Dr. Ayse Leyla Mindikoglu, profesor kedokteran dan bedah di Texas 'Baylor College of Medicine, seperti dilansir Medical Daily belum lama ini menemukan berpuasa membantu melawan efek dari diet kaya lemak dan gula.
Untuk sampai pada temuan ini, dia dan tim mempelajari 14 orang sehat yang berpuasa setiap hari selama 15 jam. Saat berpuasa, para peserta tidak mengkonsumsi makanan atau minuman.
Para peneliti lalu mengambil sampel darah peserta studi pada awal puasa. Mereka juga mengambil sampel darah peserta setelah 4 minggu beruasa.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tropomyosin 1, 3 dan 4. Tropomyosin, jenis protein yang dikenal untuk mengatur kontraksi jantung dan otot rangka. Protein ini juga membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.
"Makan dan puasa dapat secara signifikan mempengaruhi cara tubuh membuat dan menggunakan protein yang penting untuk mengurangi resistensi insulin dan mempertahankan berat badan yang sehat," kata Mindikoglu.
Studi tentang puasa muncul dalam beberapa tahun terakhir dan memperlihatkan sejumlah manfaat salah satu kewajiban muslim itu pada kesehatan.
Sebagai contoh, satu studi menunjukkan, membatasi asupan makanan dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dan bahkan dapat membantu melawan penuaan.
Ada studi yang menemukan puasa bermanfaat meningkatkan kesehatan usus dan memperkuat ritme sirkadian.
Pewarta : KR-LIA
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ayam Dalam Bambu jadi menu andalan NEO Palma Palangka Raya sambut Ramadhan
11 February 2026 9:46 WIB
Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya hadirkan 'Warisan Nusantara' selama Ramadhan
10 February 2026 17:45 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
PJB perlu ditangani sejak dini demi mencegah risiko komplikasi kelainan paru-paru
12 February 2026 16:28 WIB