Yang harus dilakukan saat anak terlanjur obesitas
Minggu, 21 Juli 2019 12:17 WIB
Ilustrasi (Istimewa)
Jakarta (ANTARA) - Jika anak Anda terlanjur mengalami obesitas, ada sejumlah hal yang bisa Anda lakukan, dua di antaranya mengatur pola makan dan latihan fisiknya.
"Dua-duanya harus berbarengan. Pola makan dibenerin, aktivitas juga dilakukan sama modifikasi perilaku serta dukungan keluarga," ujar dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi RS Pondok Indah - Pondok Indah, dr Yovita Ananta, SpA, MHSM di Jakarta, Kamis.
Pola makan anak diatur dengan pengurangan 200 kalori per hari dengan target penurunan berat badan 0,5 kilogram per minggu.
Kemudian, sambung Yovita, jadwal makan besar tetap tiga kali sehari ditambah camilan dua kali (buah dan sayur misalnya), air putih di antara jadwal makan utama.
"Kalau susah banget, minimal enggak naik dulu berat badannya sampai mencapai berat badan ideal," kata dia.
Latihan fisik setidaknya dilakukan tiga kali dalam seminggu jika intensitasnya bugar semisal berlari atau setiap hari untuk intensitas sedang seperti berjalan cepat.
Pilihannya beragam dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik anak, misalnya bersepeda, berenang, menari, karate, senam, sepak bola, basket.
Khusus untuk latihan penguatan otot misalnya senam atau push up dan penguatan tulang semisal berlari atau lompat tali, sebaiknya dilakukan paling sedikit tiga kali dalam seminggu.
Jika pola makan dan aktivitas fisik tak juga membantu, dokter bisa meresepkan obat-obatan tertentu terutama jika ada penyakit penyerta semisal kolesterol hingga operasi bariatrik.
"Obat-obatan hanya untuk anak di atas usia 12 tahun," kata Yovita.
"Dua-duanya harus berbarengan. Pola makan dibenerin, aktivitas juga dilakukan sama modifikasi perilaku serta dukungan keluarga," ujar dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi RS Pondok Indah - Pondok Indah, dr Yovita Ananta, SpA, MHSM di Jakarta, Kamis.
Pola makan anak diatur dengan pengurangan 200 kalori per hari dengan target penurunan berat badan 0,5 kilogram per minggu.
Kemudian, sambung Yovita, jadwal makan besar tetap tiga kali sehari ditambah camilan dua kali (buah dan sayur misalnya), air putih di antara jadwal makan utama.
"Kalau susah banget, minimal enggak naik dulu berat badannya sampai mencapai berat badan ideal," kata dia.
Latihan fisik setidaknya dilakukan tiga kali dalam seminggu jika intensitasnya bugar semisal berlari atau setiap hari untuk intensitas sedang seperti berjalan cepat.
Pilihannya beragam dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik anak, misalnya bersepeda, berenang, menari, karate, senam, sepak bola, basket.
Khusus untuk latihan penguatan otot misalnya senam atau push up dan penguatan tulang semisal berlari atau lompat tali, sebaiknya dilakukan paling sedikit tiga kali dalam seminggu.
Jika pola makan dan aktivitas fisik tak juga membantu, dokter bisa meresepkan obat-obatan tertentu terutama jika ada penyakit penyerta semisal kolesterol hingga operasi bariatrik.
"Obat-obatan hanya untuk anak di atas usia 12 tahun," kata Yovita.
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Barut dukung operasional SPPG Polres perkuat peningkatan gizi anak
13 February 2026 19:58 WIB
Panti Asuhan Barokah Palangka Raya terus tingkatkan kesejahteraan dan pendidikan anak asuh
11 February 2026 23:28 WIB
Malaysia pelajari kebijakan Indonesia dalam membatasi penggunaan platform digital bagi anak
11 February 2026 17:35 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
PJB perlu ditangani sejak dini demi mencegah risiko komplikasi kelainan paru-paru
12 February 2026 16:28 WIB