Negara pasar terbesar minyak sawit
Jumat, 1 November 2019 12:35 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar (dua dari kanan) saat konferesni pers dalam 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11/2019) (ANTARA/Subagyo)
Nusa Dua, Bali (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar menyatakan Indonesia merupakan pasar terbesar minyak sawit dan produk turunannya di dunia mengingat permintaan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Saat menjadi pembicara dalam 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat, Wamenlu mengatakan, India menduduki urutan kedua pasar minyak sawit dunia kemudian disusul negara-negara lain seperti Eropa, Timur Tengah.
"Maka pemenuhan (kebutuhan) dalam negeri harus dipenuhi, baik untuk edible oil dan variasi turunannya, karena dihitung jangkauan 10 tahun ke depan mayoritas sawit yang dihasilkan akan terserap di dalam negeri," kata mantan Wakil Menteri Perdagangan itu.
Setelah memenuhi kebutuhan pasar domestik, lanjutnya, sisa produksi minyak sawit nasional dan turunnya baru dimanfaatkan untuk mencukupi pasar ekspor.
Mahendra menyatakan, negara-negara di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan dan Banglades merupakan pasar ekspor minyak sawit Indonesia di masa mendatang, karena permintaan yang terus bertumbuh.
"Dalam 7-10 tahun ke depan yang terbesar kontribusi ekonominya adalah negara berkembang bukan negara maju. 10 -15 tahun ke depan bukan negara-negara maju tapi negara berkembang yang harus dipenuhi," katanya.
Untuk itu, lanjut mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu, Indonesia perlu memikirkan permintaan pasar global yang mana kebutuhan terhadap minyak nabati berkelanjutan sangat tinggi seiring pertumbuhan populasi dunia.
Baca juga: Gapki minta aturan peralatan damkar ditinjau ulang
"Kita harus melakukan pendekatan, penjelasan dan inisiatif untuk mendorong terpenuhinya platform atau sistem yang bisa mendukung keberlanjutan seluruh minyak nabati. Dan sawit siap jadi pioneer (minyak nabati berkelanjutan)," katanya.
Terkait aspek lingkungan untuk memenuhi SDGs sebagaimana tuntutan negara-negara Eropa, Mahendra menyatakan, Pemerintah Indonesia terbuka dan ingin mendorong sebesar-besarnya langkah bersama internasional untuk benar-benar melakukan evaluasi dan kebijakan yg menyeluruh terhadap seluruh minyak nabati dilihat dari sisi lingkungan hidup dan SDGs.
Baca juga: Gapki : Perlu adanya riset kelapa sawit yang berkelanjutan
Namun demikian, menurut dia, hal itu jangan hanya dilakukan dari satu sisi saja dan harus ilmiah, tidak mengada-ada serta dilihat dari berbagai faktor.
"Dilihat keseluruhan secara fair karena yg harus kita penuhi bukan pasar Eropa tapi pasar populasi dunia yang akan tumbuh terus dan membutuhkan minyak nabati dan harus direspon dengan minyak nabati berkelanjutan," katanya.
Dia menyatakan, jika bukan sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati, maka setidaknya harus membuka 6-10 kali lahan lebih luas dari yang ada saat ini bahkan bisa menjadikan hutan Amazon hilang.
Baca juga: Tarian etnik Dayak hipnotis peserta IPOC 2019
Saat menjadi pembicara dalam 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat, Wamenlu mengatakan, India menduduki urutan kedua pasar minyak sawit dunia kemudian disusul negara-negara lain seperti Eropa, Timur Tengah.
"Maka pemenuhan (kebutuhan) dalam negeri harus dipenuhi, baik untuk edible oil dan variasi turunannya, karena dihitung jangkauan 10 tahun ke depan mayoritas sawit yang dihasilkan akan terserap di dalam negeri," kata mantan Wakil Menteri Perdagangan itu.
Setelah memenuhi kebutuhan pasar domestik, lanjutnya, sisa produksi minyak sawit nasional dan turunnya baru dimanfaatkan untuk mencukupi pasar ekspor.
Mahendra menyatakan, negara-negara di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan dan Banglades merupakan pasar ekspor minyak sawit Indonesia di masa mendatang, karena permintaan yang terus bertumbuh.
"Dalam 7-10 tahun ke depan yang terbesar kontribusi ekonominya adalah negara berkembang bukan negara maju. 10 -15 tahun ke depan bukan negara-negara maju tapi negara berkembang yang harus dipenuhi," katanya.
Untuk itu, lanjut mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu, Indonesia perlu memikirkan permintaan pasar global yang mana kebutuhan terhadap minyak nabati berkelanjutan sangat tinggi seiring pertumbuhan populasi dunia.
Baca juga: Gapki minta aturan peralatan damkar ditinjau ulang
"Kita harus melakukan pendekatan, penjelasan dan inisiatif untuk mendorong terpenuhinya platform atau sistem yang bisa mendukung keberlanjutan seluruh minyak nabati. Dan sawit siap jadi pioneer (minyak nabati berkelanjutan)," katanya.
Terkait aspek lingkungan untuk memenuhi SDGs sebagaimana tuntutan negara-negara Eropa, Mahendra menyatakan, Pemerintah Indonesia terbuka dan ingin mendorong sebesar-besarnya langkah bersama internasional untuk benar-benar melakukan evaluasi dan kebijakan yg menyeluruh terhadap seluruh minyak nabati dilihat dari sisi lingkungan hidup dan SDGs.
Baca juga: Gapki : Perlu adanya riset kelapa sawit yang berkelanjutan
Namun demikian, menurut dia, hal itu jangan hanya dilakukan dari satu sisi saja dan harus ilmiah, tidak mengada-ada serta dilihat dari berbagai faktor.
"Dilihat keseluruhan secara fair karena yg harus kita penuhi bukan pasar Eropa tapi pasar populasi dunia yang akan tumbuh terus dan membutuhkan minyak nabati dan harus direspon dengan minyak nabati berkelanjutan," katanya.
Dia menyatakan, jika bukan sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati, maka setidaknya harus membuka 6-10 kali lahan lebih luas dari yang ada saat ini bahkan bisa menjadikan hutan Amazon hilang.
Baca juga: Tarian etnik Dayak hipnotis peserta IPOC 2019
Pewarta : Subagyo
Editor : Rachmat Hidayat
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Para Pejabat Kemenhub ditugasi kumpulkan uang untuk pemenangan Pilpres 2019
13 January 2025 18:46 WIB, 2025
KPK panggil 17 anggota DPRD Jatim periode 2019-2024 terkait dugaan korupsi dana hibah
12 November 2024 19:13 WIB, 2024
Anggota DPRD Pulang Pisau periode 2019-2024 diminta segera kembalikan fasilitas
21 August 2024 20:52 WIB, 2024
Edyson gantikan Sri Yeni sebagai anggota DPRD Gunung Mas periode 2019-2024
03 July 2023 15:14 WIB, 2023
Pegawai Pelabuhan Indonesia diperiksa soal kasus korupsi DP4 sebesar Rp148 miliar
03 May 2023 23:07 WIB, 2023
Ketua KPU RI optimistis partisipasi pemilih Pemilu 2024 meningkat dibanding 2019
22 July 2022 10:03 WIB, 2022
Terpopuler - Perkebunan
Lihat Juga
TAPG perkuat pemberdayaan petani sawit lewat skema plasma satu atap di Sukamara
12 December 2025 6:41 WIB
China perkuat produksi "lumbung biji-bijian" dengan mesin tani modern di Heilongjiang
26 September 2025 14:01 WIB
520 petani Indonesia menuju sertifikasi RSPO melalui Program Sawit Terampil
29 May 2023 16:25 WIB, 2023