Merasa trauma, puluhan siswa dan guru pindah keluar Wamena
Jumat, 1 November 2019 13:59 WIB
Kepala SMA Negeri 1 Wamena Yosep Wibisono. (ANTARA/Marius Frisson Yewun)
Wamena (ANTARA) - Sebanyak 44 siswa dan tiga guru di SMA Negeri 1 Wamena di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua minta pindah ke luar karena trauma.
Kepala SMA Negeri 1 Wamena Yosep Wibisono di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Jumat, mengatakan tiga orang itu berasal dari unsur guru tidak tetap.
"Sebanyak 44 siswa itu saya sudah tandatangan surat pindahnya," katanya.
Puluhan siswa dan tiga guru ini memiliki alasan pindah karena dikhawatirkan peristiwa kerusuhan seperti pada 23 September terjadi lagi.
Baca juga: Presiden Jokowi berjanji tindak lanjuti pemekaran Provinisi Papua Tengah
"Alasan ketiga, mereka mencari tempat yang dianggap mungkin memberikan kenyamanan bagi mereka," katanya.
Baru 544 dari total 900 siswa di SMA Negeri 1 Wamena yang sudah masuk sekolah. Sebagian dari jumlah yang belum masuk sekolah itu ada yang dititipkan di sekolah lain di luar Papua dan sebagiannya tidak jelas.
"Ada siswa belum masuk yang tidak ada keterangan, sehingga pada kesempatan ini saya sampaikan kepada orang tua untuk proaktif melapor ke sekolah mengenai anak-anak," katanya.
Baca juga: Pengungsi masih enggan kembali ke Wamena
Yosep mengatakan sebentar lagi siswa akan mengikuti ulangan, termasuk ujian sehingga orang tua perlu membantu pihak sekolah untuk memberikan keterangan terkait anak-anak yang belum hadir.
"Untuk kelas XII, segera kami melaksanakan falidasi data sebagai peserta ujian jadi kami butuh kerjasama orang tua murid," katanya.
Baca juga: Warga yang ingin kembali ke Wamena akan difasilitasi pemerintah
Baca juga: 13 tersangka ricuh Wamena telah ditetapkan
Baca juga: 100 persen jaringan di Wamena dipulihkan
Kepala SMA Negeri 1 Wamena Yosep Wibisono di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Jumat, mengatakan tiga orang itu berasal dari unsur guru tidak tetap.
"Sebanyak 44 siswa itu saya sudah tandatangan surat pindahnya," katanya.
Puluhan siswa dan tiga guru ini memiliki alasan pindah karena dikhawatirkan peristiwa kerusuhan seperti pada 23 September terjadi lagi.
Baca juga: Presiden Jokowi berjanji tindak lanjuti pemekaran Provinisi Papua Tengah
"Alasan ketiga, mereka mencari tempat yang dianggap mungkin memberikan kenyamanan bagi mereka," katanya.
Baru 544 dari total 900 siswa di SMA Negeri 1 Wamena yang sudah masuk sekolah. Sebagian dari jumlah yang belum masuk sekolah itu ada yang dititipkan di sekolah lain di luar Papua dan sebagiannya tidak jelas.
"Ada siswa belum masuk yang tidak ada keterangan, sehingga pada kesempatan ini saya sampaikan kepada orang tua untuk proaktif melapor ke sekolah mengenai anak-anak," katanya.
Baca juga: Pengungsi masih enggan kembali ke Wamena
Yosep mengatakan sebentar lagi siswa akan mengikuti ulangan, termasuk ujian sehingga orang tua perlu membantu pihak sekolah untuk memberikan keterangan terkait anak-anak yang belum hadir.
"Untuk kelas XII, segera kami melaksanakan falidasi data sebagai peserta ujian jadi kami butuh kerjasama orang tua murid," katanya.
Baca juga: Warga yang ingin kembali ke Wamena akan difasilitasi pemerintah
Baca juga: 13 tersangka ricuh Wamena telah ditetapkan
Baca juga: 100 persen jaringan di Wamena dipulihkan
Pewarta : Marius Frisson Yewun
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pura-pura mati agar selamat dari kerusuhan Wamena, sayang anak dan istri tewas terbakar
02 October 2019 17:31 WIB, 2019
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
PT SKS Listrik Kalimantan juara II BRICS Industrial Innovation Contest 2026 di China
17 May 2026 11:13 WIB