Alat penemu korban bencana dari mahasiswa UNS ciptakan a
Jumat, 10 Januari 2020 14:37 WIB
Dua mahasiswa sedang mencoba mengoperasikan robot penemu korban bencana alam (Foto: ANTARA/Aris Wasita)
Solo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menciptakan alat penemu korban bencana di lokasi yang tidak terjangkau oleh manusia.
"Kami menciptakan prototipe robot untuk mencari keberadaan korban ketika ada bencana," kata salah satu mahasiswa Syaifullah Filard Latifah di Solo, Jumat.
Ia mengatakan alat berbentuk robot yang diberi nama Rescue UGV ini bisa digunakan di zona-zona sulit, di antaranya gunung berapi yang masih aktif, zona yang terkena kebakaran hutan, dan zona yang terpapar radioaktif.
Baca juga: Aplikasi layanan titip motor dari mahasiswa UI
Ia mengatakan Rescue UGV dilengkapi dengan kamera dan infra merah sehingga bisa mendeteksi suhu tubuh manusia.
"Manusia akan terlihat berwarna merah kuning saat dideteksi menggunakan infra merah. Kemudian robot ini dikendalikan dengan jaringan internet. Scan pakai kamera infrared yang bisa melihat suhu tubuh sehingga bisa diketahui itu manusia apa bukan, masih hidup atau sudah meninggal," katanya.
Ia mengatakan alasan diciptakannya alat yang sudah dibuat sejak tiga bulan lalu tersebut karena banyak daerah di Indonesia yang sering terkena bencana alam.
"Bencana bisa sewaktu-waktu datang, dari situlah kami memiliki ide untuk membuat alat pendeteksi atau pencari korban bencana. Apalagi selama ini kita terkadang terkendala untuk mendeteksi keberadaan korban," katanya.
Baca juga: Kakak-adik asal Jatim ciptakan aplikasi bimbingan belajar mandiri
Mahasiswa lain yang juga masuk dalam tim penemu, Taufik Widyastama mengatakan ke depan alat tersebut akan terus dikembangkan supaya kemampuannya bisa bertambah.
"Nantinya kami akan memakai pemancar portabel agar bisa digunakan seluas-luasnya, karena masih prototipe maka saat ini masih pakai wifi handphone atau router, jadi hanya bisa 10 meter," katanya.
Ia mengatakan saat ini roda robot tersebut didesain seperti tank dan prototipe ini masih berukuran kecil. Nantinya, dikatakannya, robot akan dibuat lebih panjang agar lebih stabil ketika melintasi medan sulit, seperti saat berada di tanah longsor atau di jurang.
"Ke depan robot juga akan dirancang supaya bisa digunakan berkomunikasi dua arah. Saat ini robot baru bisa mentransmisikan suara dari lapangan," katanya.
Sementara itu, selain Syaifullah dan Taufik, mahasiswa lain yang juga tergabung dalam tim yaitu Nada Syadza Azizah. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UNS.
Baca juga: Jaket pelampung terhubung ke GPS buatan mahasiswa ITTP
Baca juga: Alat untuk atasi kecanduan internet karya mahasiswa UI
Baca juga: Tiga mahasiwa UI temukan obat alternatif kanker serviks
"Kami menciptakan prototipe robot untuk mencari keberadaan korban ketika ada bencana," kata salah satu mahasiswa Syaifullah Filard Latifah di Solo, Jumat.
Ia mengatakan alat berbentuk robot yang diberi nama Rescue UGV ini bisa digunakan di zona-zona sulit, di antaranya gunung berapi yang masih aktif, zona yang terkena kebakaran hutan, dan zona yang terpapar radioaktif.
Baca juga: Aplikasi layanan titip motor dari mahasiswa UI
Ia mengatakan Rescue UGV dilengkapi dengan kamera dan infra merah sehingga bisa mendeteksi suhu tubuh manusia.
"Manusia akan terlihat berwarna merah kuning saat dideteksi menggunakan infra merah. Kemudian robot ini dikendalikan dengan jaringan internet. Scan pakai kamera infrared yang bisa melihat suhu tubuh sehingga bisa diketahui itu manusia apa bukan, masih hidup atau sudah meninggal," katanya.
Ia mengatakan alasan diciptakannya alat yang sudah dibuat sejak tiga bulan lalu tersebut karena banyak daerah di Indonesia yang sering terkena bencana alam.
"Bencana bisa sewaktu-waktu datang, dari situlah kami memiliki ide untuk membuat alat pendeteksi atau pencari korban bencana. Apalagi selama ini kita terkadang terkendala untuk mendeteksi keberadaan korban," katanya.
Baca juga: Kakak-adik asal Jatim ciptakan aplikasi bimbingan belajar mandiri
Mahasiswa lain yang juga masuk dalam tim penemu, Taufik Widyastama mengatakan ke depan alat tersebut akan terus dikembangkan supaya kemampuannya bisa bertambah.
"Nantinya kami akan memakai pemancar portabel agar bisa digunakan seluas-luasnya, karena masih prototipe maka saat ini masih pakai wifi handphone atau router, jadi hanya bisa 10 meter," katanya.
Ia mengatakan saat ini roda robot tersebut didesain seperti tank dan prototipe ini masih berukuran kecil. Nantinya, dikatakannya, robot akan dibuat lebih panjang agar lebih stabil ketika melintasi medan sulit, seperti saat berada di tanah longsor atau di jurang.
"Ke depan robot juga akan dirancang supaya bisa digunakan berkomunikasi dua arah. Saat ini robot baru bisa mentransmisikan suara dari lapangan," katanya.
Sementara itu, selain Syaifullah dan Taufik, mahasiswa lain yang juga tergabung dalam tim yaitu Nada Syadza Azizah. Ketiganya merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UNS.
Baca juga: Jaket pelampung terhubung ke GPS buatan mahasiswa ITTP
Baca juga: Alat untuk atasi kecanduan internet karya mahasiswa UI
Baca juga: Tiga mahasiwa UI temukan obat alternatif kanker serviks
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PT SLK gandeng akademisi, pendekatan inovatif tingkatkan efisiensi energi
12 October 2024 13:14 WIB, 2024
Tanggapan eks pimpinan MWA UNS soal pencopotan gelarnya sebagai guru besar
13 July 2023 15:23 WIB, 2023
Menteri Pendidikan Nadiem Makarim copot gelar guru besar eks pimpinan MWA UNS
13 July 2023 15:19 WIB, 2023
Polisi diminta cari tersangka lain terkait kematian Gilang saat kegiatan Diklatsar Menwa UNS
05 January 2022 19:57 WIB, 2022
Dua tersangka ditetapkan tersangka terkait tewasnya mahasiswa Diklatsar Menwa UNS
05 November 2021 17:05 WIB, 2021
Terpopuler - Teknologi
Lihat Juga
Menkomdigi nilai media arus utama krusial dalam menjaga kredibilitas informasi
20 February 2026 13:02 WIB
Oppo Find X9s dibekali chipset Dimensity 9500s dan baterai kapasitas 7025 mAh
19 February 2026 20:10 WIB
Kebocoran data 12 juta rekening bank di Prancis terjadi akibat aksi peretasan
19 February 2026 18:47 WIB