Anggota DPR sayangkan lembaga survei pemilu ikut survei virus Corona
Senin, 25 Mei 2020 19:56 WIB
Anggota DPR RI Marwan Jafar. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
Pati (ANTARA) - Anggota DPR, Marwan Jafar,menyayangkan pengamat yang sebetulnya memiliki keahlian di bidang survei pemilu, kini ikut-ikutan melakukan survei terkait virus corona dengan mengolah data temuan kasus yang ada.
"Kami justru khawatir, pengamat yang aslinya lembaga suvei Pemilu Presiden, Pemilu Kepala Daerah, tiba-tiba mengolah data soal virus corona karena bisa memperkeruh suasana," ujarnya, di Pati, Senin.
Baca juga: Sebagian warga tetap ingin mudik untuk rayakan Lebaran menurut survei
Menurut dia hal itu bisa menggiring opini publik, yang seharusnya tidak dikatakan oleh seseorang sebagai kaum intelektual. Oleh karena itu, politisi dari PKB itu meminta hal itu dihentikan karena bisa mempengaruhi publik.
Dalam mengemas hasil surveinya agar terlihat lebih sempurna, kata dia, mereka juga memasukkan pendapat dari para pengamat internasional dan seolah-olah bersumber dari media internasional. Padahal, media internasional maupun pengamat internasional belum bisa menjamin kebenaran pendapatnya.
"Untuk memastikan kebenarannya, tentu harus diteliti dan didalami lebih jauh," ujarnya.
Kekhawatiran lain, di balik itu semua ada agenda setting karena media yang berskala internasional maupun nasional punya agenda tersendiri.
Ia menganggap hal demikian tidak diperolehkan karena dapat menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.
Berdasarkan pemberitaan di beberapa media daring, terdapat lembaga survei memprediksi wabah virus Corona akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan ada yang menyatakan dengan tingkat kepercayaan 99 persen bahwa virus Corona 99 persen tidak lagi menjadi masalah bagi dunia pada Juli-September 2020. Sedangkan tercapainya 99 persen untuk kasus di Indonesia diperkirakan pada Juni 2020.
"Kami justru khawatir, pengamat yang aslinya lembaga suvei Pemilu Presiden, Pemilu Kepala Daerah, tiba-tiba mengolah data soal virus corona karena bisa memperkeruh suasana," ujarnya, di Pati, Senin.
Baca juga: Sebagian warga tetap ingin mudik untuk rayakan Lebaran menurut survei
Menurut dia hal itu bisa menggiring opini publik, yang seharusnya tidak dikatakan oleh seseorang sebagai kaum intelektual. Oleh karena itu, politisi dari PKB itu meminta hal itu dihentikan karena bisa mempengaruhi publik.
Dalam mengemas hasil surveinya agar terlihat lebih sempurna, kata dia, mereka juga memasukkan pendapat dari para pengamat internasional dan seolah-olah bersumber dari media internasional. Padahal, media internasional maupun pengamat internasional belum bisa menjamin kebenaran pendapatnya.
"Untuk memastikan kebenarannya, tentu harus diteliti dan didalami lebih jauh," ujarnya.
Kekhawatiran lain, di balik itu semua ada agenda setting karena media yang berskala internasional maupun nasional punya agenda tersendiri.
Ia menganggap hal demikian tidak diperolehkan karena dapat menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.
Berdasarkan pemberitaan di beberapa media daring, terdapat lembaga survei memprediksi wabah virus Corona akan berakhir dalam waktu dekat. Bahkan ada yang menyatakan dengan tingkat kepercayaan 99 persen bahwa virus Corona 99 persen tidak lagi menjadi masalah bagi dunia pada Juli-September 2020. Sedangkan tercapainya 99 persen untuk kasus di Indonesia diperkirakan pada Juni 2020.
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prabowo tetap di puncak elektabilitas, Survei: Masih menang jika pilpres sekarang
08 November 2025 18:45 WIB
Poltracking: Elektabilitas Agustiar Sabran-Edy Pratowo unggul 43,5 persen
21 October 2024 19:09 WIB, 2024
Hasil survei kinerja Jokowi meningkat merupakan bukti apresiasi masyarakat
21 June 2024 18:40 WIB, 2024
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Jaksa tuntut 10 tahun penjara eks bos Bank Jateng dalam kasus korupsi Sritex
20 April 2026 22:00 WIB