Sebuah tugboat terjebak gelombang tinggi di dekat perairan Kumai
Sabtu, 24 Desember 2022 6:16 WIB
Kapal TB Putra Abadi yang mengalami mati mesin di perairan Kumai. Jumat (23/12/2022) ANTARA/HO-Istimewa
Pangkalan Bun (ANTARA) - Sebuah kapal tugboat bernama Putra Abadi 77 yang membawa sembilan orang awak kapal mengalami mati mesin di tengah laut sekitar Perairan Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah sehingga terjebak gelombang tinggi yang sedang terjadi di perairan tersebut.
Kapal berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan tujuan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dan mengalami mati mesin, ujar Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas pelabuhan (KSOP) Kelas III Kumai Hery Suyanto di Pangkalan Bun, Jumat malam.
"Memang ada informasi tersebut, Namun lokasi kapal saat ini berada di luar Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKP) dan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) KSOP Kumai," ujar Hery.
Sementara itu, Kasubsi Operasi Pencarian dan Pertolongan Kantor Basarnas Palangka Raya Adliandi Salman mengatakan, informasi yang mereka terima bahwa kapal mengalami putus tali towing sehingga air masuk ke dalam kapal sehingga kapal mengalami mati mesin. Basarnas Palangka Raya mendapat informasi pada Jumat sekitar pukul 12.00 WIB.
"Saat ini kami terus berkoordinasi dengan KSOP Kumai, namun dikarenakan kondisi di perairan Kumai saat ini gelombang besar, sehingga tidak ada kapal yang berani untuk dekati titik lokasi kapal," ujarnya.
Baca juga: Jumlah penumpang di Pelabuhan Kumai melonjak jelang Natal dan Tahun Baru
Basarnas Palangka Raya juga terus berkoordinasi dengan Kapal Coral Geographer yang berjarak kerang lebih 3 Nautical Mil (NM) dari TB Putra Abadi 77
"Awak Kapal Coral Geographer yang pertama melaporkan kecelakaan kapal ini, dan jarak kedua kapal kurang lebih 3 NM, namun mereka tidak berani melakukan evakuasi dikarenakan cuaca buruk gelombang besar di lokasi tersebut yang mencapai 3 meter lebih," ujar Salman.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Pangkalan Bun Aqil Ihsan mengatakan, saat ini kondisi cuaca buruk dan gelombang besar di wilayah Perairan Kumai.
"Saat ini di Perairan Kumai gelombang besar mencapai 2,5 sampai 4 meter dan sangat berbahaya bagi kapal feri apalagi kapal berbadan kecil," demikian Aqil.
Baca juga: Polres Kobar musnahkan barang bukti sabu senilai Rp1 miliar lebih
Baca juga: Perumda Tirta Arut Pangkalan Bun siap luncurkan AMDK
Baca juga: BMKG ingatkan warga pesisir Kobar waspadai potensi banjir rob
Kapal berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan tujuan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dan mengalami mati mesin, ujar Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas pelabuhan (KSOP) Kelas III Kumai Hery Suyanto di Pangkalan Bun, Jumat malam.
"Memang ada informasi tersebut, Namun lokasi kapal saat ini berada di luar Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKP) dan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) KSOP Kumai," ujar Hery.
Sementara itu, Kasubsi Operasi Pencarian dan Pertolongan Kantor Basarnas Palangka Raya Adliandi Salman mengatakan, informasi yang mereka terima bahwa kapal mengalami putus tali towing sehingga air masuk ke dalam kapal sehingga kapal mengalami mati mesin. Basarnas Palangka Raya mendapat informasi pada Jumat sekitar pukul 12.00 WIB.
"Saat ini kami terus berkoordinasi dengan KSOP Kumai, namun dikarenakan kondisi di perairan Kumai saat ini gelombang besar, sehingga tidak ada kapal yang berani untuk dekati titik lokasi kapal," ujarnya.
Baca juga: Jumlah penumpang di Pelabuhan Kumai melonjak jelang Natal dan Tahun Baru
Basarnas Palangka Raya juga terus berkoordinasi dengan Kapal Coral Geographer yang berjarak kerang lebih 3 Nautical Mil (NM) dari TB Putra Abadi 77
"Awak Kapal Coral Geographer yang pertama melaporkan kecelakaan kapal ini, dan jarak kedua kapal kurang lebih 3 NM, namun mereka tidak berani melakukan evakuasi dikarenakan cuaca buruk gelombang besar di lokasi tersebut yang mencapai 3 meter lebih," ujar Salman.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Pangkalan Bun Aqil Ihsan mengatakan, saat ini kondisi cuaca buruk dan gelombang besar di wilayah Perairan Kumai.
"Saat ini di Perairan Kumai gelombang besar mencapai 2,5 sampai 4 meter dan sangat berbahaya bagi kapal feri apalagi kapal berbadan kecil," demikian Aqil.
Baca juga: Polres Kobar musnahkan barang bukti sabu senilai Rp1 miliar lebih
Baca juga: Perumda Tirta Arut Pangkalan Bun siap luncurkan AMDK
Baca juga: BMKG ingatkan warga pesisir Kobar waspadai potensi banjir rob
Pewarta : M Husein Asyari
Editor : Admin 2
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jenazah ketiga korban tugboat tenggelam akhirnya ditemukan di Ujung Pandaran
12 October 2025 12:21 WIB
Dua jenazah ditemukan di Ujung Pandaran dipastikan korban tugboat tenggelam
11 October 2025 7:18 WIB
Polda Kalteng kerahkan tim pencarian 10 korban tugboat terbakar di Barsel
13 May 2024 16:51 WIB, 2024
Terpopuler - Kotawaringin Barat
Mahasiswa Teknik UMPR gali ilmu pengelolaan kualitas udara di BMKG Tjilik Riwut
07 May 2026 14:20 WIB
Lihat Juga
Wabup Kotawaringin Barat tekankan penguatan kerja sama wujudkan pendidikan bermutu
02 May 2026 17:48 WIB
Kejari Kobar sampaikan putusan sidang korupsi pembangunan pabrik tepung ikan
29 April 2026 16:01 WIB
Edukasi dan aksi nyata, PT GSDI tanamkan kesadaran lingkungan serta pencegahan karhutla
28 April 2026 13:22 WIB
Wabup Kobar sebut semangat otonomi penggerak terwujudnya pemerintahan lebih baik
27 April 2026 15:09 WIB
Bupati Kotawaringin Barat: Transaksi non tunai wujudkan pemerintahan desa bersih
25 April 2026 17:04 WIB