Sampit (ANTARA) - Maraknya kebakaran lahan di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah membuat pemerintah memaksimalkan upaya pemadaman melalui tim di darat dan pengeboman air atau water bombing dari udara menggunakan helikopter. 

"Selain oleh personel yang langsung ke lokasi yang bisa dijangkau, kita juga meminta bantuan pemadaman menggunakan water bombing," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam, Rabu. 

Data BPBD Kotawaringin Timur, kebakaran lahan di Sampit terjadi di beberapa titik di Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Di salah satu lokasi, luas lahan yang terbakar bahkan sudah mencapai tiga hektare. 

Tim BPBD bersama relawan dan pihak terkait lainnya berusaha memadamkan api di lokasi kebakaran yang bisa dijangkau melalui jalur darat. Selain sulit akses menuju lokasi, tim juga cukup kesulitan untuk mendapatkan sumber air yang dekat dengan lokasi kebakaran. 

Helikopter milik BNPB juga dikerahkan melakukan pemadaman dari udara dengan pengeboman air. Prioritas sasarannya adalah kebakaran lahan yang jauh dari akses jalan dan sulit dijangkau tim darat. 

Lokasi yang sulit dijangkau dalam kebakaran lahan hari ini adalah di Kecamatan Baamang wilayah persimpangan menuju arah Desa Kandan. Selain tidak ada akses jalan untuk kendaraan, lokasinya juga jauh dari sumber air. 

Baca juga: DPRD Kotim sambut positif pidato kenegaraan kobarkan optimisme

Pemadaman melalui udara diarahkan ke lokasi tersebut. Hingga Rabu sore, api belum sepenuhnya padam dan diharapkan pemadaman bisa dilanjutkan esok hari. 

Sementara itu, kebakaran lahan juga mulai membuat masyarakat khawatir karena tidak jauh dari permukiman. Seperti warga Perumahan Graha Pramuka di Jalan Pramuka diliputi kecemasan karena kebakaran lahan makin mendekat ke perumahan mereka. 

Warga berterima kasih karena petugas dengan cepat merespons dan langsung datang ke lokasi. Namun dengan situasi saat ini, warga masih cemas khawatir kebakaran lahan kembali terjadi karena sebagian merupakan lahan gambut yang kini kering sehingga mudah terbakar. 

"Lahan kosong yang sering terbakar itu bukan milik warga di perumahan. Kalau orang perumahan juga kan enak kita minta agar lahannya dibersihkan supaya tidak terbakar," ujar Dian, salah satu warga. 

Sementara itu berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Sampit mencapai 101. Kondisi ini membuat kualitas udara di daerah ini dinyatakan masuk kategori tidak sehat. 

Baca juga: Polisi di Kotim memproses hukum seorang terduga pembakar lahan

Baca juga: Pemkab Kotim terus tingkatkan promosi potensi daerah

Baca juga: KUA-PPAS 2024 Kotim disepakati, berikut komposisinya

Pewarta : Norjani
Editor : Muhammad Arif Hidayat
Copyright © ANTARA 2024