Sampit (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dikhawatirkan semakin meningkat, terlebih titik panas atau hot spot terus bermunculan seiring berkurangnya intensitas hujan.
"Untuk wilayah utara sampai sore ini termonitor ada enam titik hot spot. Ini tentu perlu menjadi perhatian bersama," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam di Sampit, Sabtu.
BPBD Kotawaringin Timur menyerukan masyarakat dan semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Rabu (14/1/2026) lalu bahkan karhutla menghanguskan enam hektare lahan di Desa Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit.
Sementara itu, enam titik hotspot di wilayah utara terpantau pada Sabtu (18/1/2026) yaitu di satu titik di Desa Tumbang Koling Kecamatan Cempaga Hulu, dua titik di Kuluk Telawang Kecamatan Antang Kalang, satu titik Tumbang Boloi Kecamatan Telaga Antang, satu titik di Sungai Hanya Kecamatan Antang Kalang, dan satu titik di Tumbang Tawan Kecamatan Bukit Santuai.
Baca juga: Dinas Perikanan Kotim larang praktik 'illegal fishing'
Meski bukan kawasan gambut, munculnya hot spot di wilayah utara juga perlu diwaspadai. Berdasarkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya, rumitnya geografis menjadi tantangan pemadaman karhutla di wilayah utara karena kebakaran sering terjadi di lokasi yang sulit dijangkau.
"Kami meminta bantuan pemerintah kecamatan dan desa untuk ikut memantau perkembangan di lapangan. Informasi tersebut sangat penting untuk penanganan," ujar Multazam.
Terkait kebakaran di Desa Ujung Pandaran, Multazam menyebut sudah aman dan tidak ada terpantau lagi hot spor dalam dua hari terakhir. Meski begitu pemantauan tetap dilakukan sebagai upaya deteksi dini.
Secara umum, BPBD Kotawaringin Timur melakukan patroli karhutla, khususnya di wilayah Kota Sampit. Langkah ini mengingat potensi kerawanan karhutla yang mulai meningkat.
"Kalau terjadi karhutla berskala besar dan berada di wilayah bahaya karhutla, sesuai dengan Kajian Risiko Bencana, kami akan turunkan tim. Unit kami posisi servisible. Personel stand by baik yang piket dan di luar piket," demikian Multazam.
Baca juga: Pemkab Kotim tekankan pentingnya manajemen kalbu hadapi tantangan zaman
Baca juga: Program IJD berikan nuansa baru bagi infrastruktur Desa Tinduk
Baca juga: Karhutla di Kotim hanguskan enam hektare lahan
