
Korsleting listrik dominasi penyebab kebakaran di Kotim sepanjang 2025

Sampit (ANTARA) - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengungkapkan bahwa penyebab kebakaran bangunan di wilayah setempat sepanjang 2025 didominasi masalah instalasi listrik yakni korsleting atau hubungan pendek arus listrik.
“Sepanjang 2025 lalu, kami menangani 95 kasus kebakaran. Dari total tersebut kebakaran bangunan menjadi yang terbanyak dengan faktor utamanya adalah korsleting listrik,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdamkarmat Kotim Atimaraahini di Sampit, Selasa.
Atimaraahini merincikan, dari total 95 kasus tersebut terdapat 50 kebakaran bangunan, 32 kebakaran lain dan 13 kebakaran lahan. Berdasarkan investigasi, masalah kelistrikan menjadi pemicu utama pada 50 titik lokasi kejadian.
Selain itu, faktor kelalaian manusia juga cukup tinggi dengan 21 kasus. Ada juga disebabkan kebocoran gas Elpiji maupun kompor, termasuk faktor disengaja.
Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penggunaan alat elektronik di rumah tangga. Langkah pencegahan dini sangat diperlukan untuk menekan angka kecelakaan akibat kegagalan teknis maupun kelalaian personal.
“Kami mengimbau agar masyarakat selalu berhati-hati. Apabila meninggalkan rumah, supaya memperhatikan keadaan peralatan listriknya, demi menjaga keamanan pribadi maupun lingkungan sekitar,” ucapnya.
Baca juga: Kasus dugaan korupsi dana hibah Pilkada KPU Kotim naik ke tahap penyidikan
Atimaraahini juga menekankan pentingnya pemeriksaan area dapur secara menyeluruh sebelum penghuni beraktivitas di luar. Hal ini bertujuan untuk memastikan tidak ada sumber api yang tertinggal dalam kondisi aktif.
“Pastikan kompor-kompor sudah dimatikan atau sudah dalam kondisi aman sebelum ditinggal. Ini merupakan prosedur keselamatan dasar yang hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat,” tambahnya.
Disamping kasus kebakaran, Disdamkarmat Kotim juga sukses menjalankan 704 operasi penyelamatan (rescue) non-kebakaran yang didominasi penanganan satwa liar. Evakuasi ular dan sarang lebah menjadi layanan yang paling banyak diminta oleh warga setempat.
“Kami juga ada melayani pelepasan cincin, penanganan kendaraan, evakuasi pohon tumbang, hingga penanganan tumpahan minyak di jalan raya demi menjamin keselamatan warga,” demikian Atimaraahini.
Baca juga: DPRD Kotim dorong tindak lanjut pemulihan kawasan rawan narkoba
Baca juga: DPRD Kotim kooperatif terkait penggeledahan oleh Kejati
Baca juga: BNNK Kotim pimpin tim terpadu datangi kawasan rawan narkoba
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
