Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif dari Universitas Indonesia dr. Maria Mayasari Sp.B-KBD mengatakan perkembangan inovasi teknologi di bidang kedokteran terutama metode operasi hati dapat meningkatkan kesempatan hidup pada pasien.
“Kita sudah tidak lagi berhadapan dengan suatu kematian yang tinggi, dan kemudian kita mendapat suatu justru setelah operasi yang cukup baik,” kata Maria dalam diskusi mengenai penyakit hati di RS Medistra Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan di Indonesia pertama kali mengadopsi operasi kanker hati atau hepatocellular carcinoma menggunakan finger fracture tahun 1958 untuk memotong parenkim hati tanpa benda tajam.
Kemudian tahun 1984 mulai diperkenalkan intraoperatif ultrasound saat operasi, sehingga dokter bisa melihat lebih jelas dan mengurangi perdarahan.
Lalu berkembang ke metode laparoskopi dan kemudian muncul inovasi hand assisted laparoscopy dengan ukuran tangan lebih kecil, setelah itu berkembang dengan inovasi minimal invasif dengan robotik.
Maria mengatakan transplantasi hati pertama dilakukan di Amerika pada tahun 60-an, yang menjadi batu loncatan di bidang kedokteran bahwa manusia bisa menerima organ hati dari orang lain dan dapat berfungsi dengan baik.
Namun untuk metode transplantasi hati di Indonesia baru dilakukan sekitar tahun 2000-an dan 2010 mulai dilakukan prosedur transplantasi pada dewasa, yang menandakan Indonesia cukup tertinggal 10-20 tahun dari negara lain.
“Kalau untuk selain transplantasi, mulai tahun 2011 Indonesia mulai laparoskopi, dan tahun 2025 baru mulai robotic surgery, jadi agak terlambat di banding di dunia. Mungkin 10-20 tahun,” katanya.
Ia mengatakan dengan adanya transplantasi liver dari orang lain, yang pada saat itu dilakukan pada pendonor yang sudah meninggal (deceased donor) membuka banyak harapan hidup pasien dan akhirnya didapatkan cara-cara yang lebih aman dan pasien bisa bertahan dengan lebih baik.
Maria menyayangkan untuk transplantasi hati Indonesia masih memiliki keterbatasan terutama kekurangan peralatan transplantasi, serta tidak bisa dilakukan di rumah sakit privat melainkan dilakukan di pusat pendidikan.
Dengan adanya perkembangan metode penyembuhan penyakit kanker hati dan transplantasi diharapkan Indonesia bisa mengadopsi pengetahuan dari negara yang sudah menerapkannya dan mengubah peraturan di Indonesia mengenai transplantasi hati.