Jakarta (ANTARA) - Kurang dari sebulan sebelum Tahun Baru Imlek, kawasan Glodok di Jakarta Barat kembali berubah wajah. Lampion merah bergantungan di sepanjang jalan, lagu-lagu tradisional berbahasa Mandarin bernuansa tahun baru diputar, dan deretan toko dipenuhi pernak-pernikshiokuda.
Namun, di balik nuansa tradisional itu, terdengar alunan musik Mandarin modern, dekorasi Imlek yang lebih minimalis, dan pakaian tradisional China dengan warna pastel kekinian. Hal-hal tersebut tidak asing di mata generasi muda, karena kerap muncul dalam drama China, yang populer dengan sebutan dracin.
Di kawasan Pecinan tertua di Indonesia itu, perayaan Imlek mengalami transformasi halus. Tradisi yang berakar dari budaya China klasik kini berdampingan dengan budaya populer China yang menyebar melalui drama televisi, musik pop, dan media digital.
Bagi banyak anak muda, pemahaman terhadap budaya China tidak hanya diperoleh dari cerita orang tua atau tradisi, tetapi juga dari tayangan visual yang dikonsumsi sehari-hari. Dracin menghadirkan gambaran Imlek di China dengan jamuan keluarga besar, pakaian tradisional, hingga suasana kampung halaman yang mengandung makna emosional.
Di sebuah toko di Glodok, Elisabeth Queenza (17) tampak memilih hiasan Imlek bersama adiknya.
"Waktu nonton dracin, Imlek itu kelihatan meriah dan penuh makna keluarga. Jadi saat ke Glodok, meriahnya terasa," ujarnya.
Menurut Elisabeth, dracin membuat generasi muda lebih akrab dengan simbol-simbol budaya, mulai dari hiasan, pakaian tradisional, hingga nilai kekeluargaan yang menjadi inti dari perayaan Imlek.
"Di dracin, Imlek menjadi momen kumpul keluarga, sama seperti cara kami merayakan Imlek di Indonesia. Itu yang membuat saya ingin mencari hiasan dan pakaian tradisional seperti yang dipakai dalam dracin," tambahnya, yang mengaku rutin menonton dracin melalui platformstreaming.
Selain dracin, musik pop China juga mulai mengisi ruang perayaan Imlek di Glodok, yang sebelumnya didominasi lagu-lagu tradisional bertema Tahun Baru Imlek. Lagu Mandarin modern diputar di toko-toko, restoran, hingga kafe di sekitar kawasan tersebut.
Lagu Mandarin modern diputar di toko-toko, restoran, hingga kafe di sekitar kawasan tersebut.
Pengaruh dracin dalam persiapan menjelang Imlek juga terlihat secara visual, yaitu dengan meningkatnya minat konsumen terhadap busana hanfu modern, yang sering muncul dalam drama sejarah China
. Generasi muda seperti Elisabeth ingin mengenakan hanfu saat sesi foto Imlek atau acara keluarga. Baginya, hanfu menjadi simbol ketertarikan terhadap budaya China klasik yang dipopulerkan kembali melalui dracin.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran selera generasi muda yang lebih akrab dengan budaya China kontemporer. Musik pop Mandarin tidak menggantikan lagu Imlek klasik, tetapi berjalan berdampingan, menciptakan suasana perayaan yang lebih personal dan modern.
"Anak muda sekarang lebih kenal penyanyi China dari drama atau media sosial. Jadi waktu Imlek, musiknya juga ikut berubah," ujar seorang karyawan toko di Glodok, yang memutarsoundtrackdracin di tokonya.
Di tengah pengaruh budaya populer China, perayaan Imlek tidak kehilangan makna, melainkan mengalami perluasan makna. Generasi muda tetap menjalankan tradisi nenek moyang, menghormati leluhur, dan berkumpul bersama keluarga, tetapi cara mereka mengekspresikan perayaan itu menjadi lebih beragam.
Nuansa menyambut Imlek di Glodok di era ini menjadi cerminan dinamika identitas masyarakat Tionghoa di Indonesia. Di satu sisi, perayaan Imlek berakar kuat pada tradisi dan nilai leluhur dari China, tetapi di sisi lain, perayaan tersebut terus berkembang mengikuti arus budaya populer dan globalisasi. Selesai