Palangka Raya (ANTARA) - Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia bekerja, belajar dan berinteraksi, lantaran internet, aplikasi pesan instan, rapat daring, serta media sosial memungkinkan komunikasi berlangsung cepat dan melintasi batas ruang.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin banyak dirasakan masyarakat, yakni kelelahan digital atau digital fatigue. Kondisi ini menggambarkan kelelahan psikologis akibat paparan komunikasi digital yang intens dan berkelanjutan.
Kelelahan digital tidak selalu muncul dalam bentuk stres berat atau gangguan kesehatan yang kasat mata. Ia sering hadir sebagai rasa lelah yang menetap, menurunnya kemampuan fokus, kejenuhan emosional, serta dorongan untuk menjauh dari interaksi digital.
Fenomena ini menjadi relevan untuk dibahas karena menyentuh keseharian jutaan orang, terutama di negara dengan tingkat penggunaan internet tinggi seperti Indonesia.
Data nasional menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah melampaui tiga perempat populasi, dengan rata-rata waktu penggunaan internet harian mencapai lebih dari tujuh jam.
Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk komunikasi kerja, pembelajaran daring, serta aktivitas media sosial. Intensitas inilah yang membentuk lingkungan komunikasi baru, di mana keterhubungan tidak lagi bersifat sesekali, melainkan berlangsung terus-menerus.
Kerja Hybrid dan Beban Komunikasi Digital
Pola kerja hybrid menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam dunia kerja pascapandemi. Di banyak sektor, terutama jasa, pendidikan, dan teknologi informasi, bekerja dari rumah dan kantor secara bergantian kini menjadi praktik yang lazim. Kerja hybrid kerap dipandang sebagai solusi untuk meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi.
Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru dalam bentuk beban komunikasi digital. Tanpa batas fisik kantor, komunikasi kerja cenderung meluas ke luar jam kerja formal. Pesan, permintaan, dan koordinasi kerja masuk melalui berbagai kanal digital, sering kali tanpa kejelasan tingkat urgensi.
Survei organisasi menunjukkan bahwa pekerja digital menerima puluhan hingga ratusan pesan kerja setiap hari. Setiap pesan memerlukan perhatian, penilaian, dan respons. Akumulasi tuntutan ini menyebabkan fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif, terutama ketika pesan datang secara simultan dari berbagai platform.
Selain itu, kerja hybrid juga meningkatkan intensitas rapat daring. Rapat virtual yang awalnya dimaksudkan sebagai pengganti pertemuan fisik justru sering bertambah jumlahnya.
Banyak pekerja mengikuti rapat daring secara berurutan tanpa jeda yang memadai. Kondisi ini menimbulkan kelelahan mental meski aktivitas fisik relatif minimal.
Dalam konteks Indonesia, budaya kerja yang menilai kecepatan respons sebagai indikator komitmen turut memperkuat tekanan tersebut.
Ketika keterlambatan membalas pesan dipersepsikan sebagai kurang profesional, pekerja cenderung merasa harus selalu siaga. Tanpa kebijakan komunikasi yang jelas, fleksibilitas kerja hybrid berisiko berubah menjadi sumber kelelahan psikologis yang tersembunyi.
Pendidikan Digital dan Kelelahan Akademik
Kelelahan digital juga dirasakan di sektor pendidikan. Digitalisasi pembelajaran membuka akses pendidikan yang lebih luas, tetapi sekaligus memperkenalkan beban komunikasi akademik yang baru. Platform pembelajaran daring, kelas sinkron melalui video, grup pesan kelas, dan tugas digital sering berjalan bersamaan.
Bagi peserta didik, kondisi ini menuntut kemampuan fokus dan pengelolaan perhatian yang tinggi. Banyak siswa dan mahasiswa melaporkan kesulitan berkonsentrasi, cepat jenuh, dan kelelahan mental selama pembelajaran daring yang intens. Interaksi belajar yang berlangsung melalui layar dalam durasi panjang turut mengurangi kualitas keterlibatan.
Pendidik pun menghadapi tantangan serupa. Mereka dituntut selalu tersedia secara digital, merespons pertanyaan, memantau aktivitas belajar daring, dan menjaga interaksi tetap berjalan. Dalam jangka panjang, tekanan ini berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis tenaga pendidik.
Masalah utama bukan terletak pada teknologi pembelajaran, melainkan pada desain komunikasi pendidikan. Ketika pembelajaran daring hanya memindahkan intensitas tatap muka ke ruang digital tanpa penyesuaian ritme dan beban kognitif, kelelahan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Budaya Media Sosial dan Kelelahan Kolektif
Di luar konteks kerja dan pendidikan, budaya media sosial masyarakat Indonesia turut membentuk pengalaman kelelahan digital.
Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Media sosial menjadi ruang utama untuk berekspresi, berbagi informasi, dan membangun relasi sosial.
Namun, intensitas penggunaan yang tinggi membawa konsekuensi psikologis. Arus informasi yang cepat, notifikasi berkelanjutan, serta tekanan untuk terlibat secara emosional menciptakan beban tersendiri.
Dalam budaya sosial yang menjunjung responsivitas dan kebersamaan, keterlambatan merespons pesan atau unggahan sering dipersepsikan secara negatif.
Banyak pengguna media sosial melaporkan rasa jenuh, kelelahan emosional, dan dorongan untuk mengurangi interaksi daring.
Menariknya, kelelahan ini jarang diungkapkan secara terbuka. Ia lebih sering muncul dalam bentuk diam, apatis, atau keinginan “beristirahat sejenak” dari media sosial tanpa benar-benar meninggalkannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kelelahan digital di media sosial bersifat kolektif. Ia tidak hanya berkaitan dengan pilihan individu, tetapi juga dengan norma sosial dan desain platform yang mendorong keterlibatan berkelanjutan.
Data Pendukung Fenomena Kelelahan Digital
Beberapa temuan data memperkuat gambaran kelelahan digital di masyarakat:
Pertama, durasi penggunaan internet yang tinggi di Indonesia menunjukkan intensitas paparan komunikasi digital dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, peningkatan jumlah dan durasi rapat daring dibandingkan sebelum pandemi menunjukkan perubahan signifikan dalam pola komunikasi kerja.
Ketiga, beban pesan kerja yang tinggi berkontribusi pada fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif.
Keempat, survei pengguna media sosial menunjukkan hubungan antara penggunaan intensif dengan kejenuhan emosional dan penurunan kesejahteraan psikologis.
Kelima, kaburnya batas antara ruang kerja dan ruang personal memperkuat risiko kelelahan digital dalam kerja hybrid.
Masalah Struktural dalam Ekosistem Komunikasi Digital
Penting untuk dipahami bahwa kelelahan digital bukan semata-mata kegagalan individu dalam mengelola waktu atau teknologi.
Fenomena ini mencerminkan masalah struktural dalam ekosistem komunikasi digital. Norma yang menuntut kecepatan, visibilitas, dan keterhubungan tanpa jeda sering kali mengabaikan keterbatasan kognitif dan emosional manusia.
Pendekatan yang hanya menekankan pengendalian diri individu berisiko mengalihkan tanggung jawab dari sistem ke personal. Padahal, tanpa perubahan pada desain komunikasi organisasi, pendidikan, dan platform digital, kelelahan akan terus berulang.
Menuju Ekologi Komunikasi Digital yang Lebih Berkelanjutan
Menghadapi kelelahan digital, diperlukan penataan ulang cara berkomunikasi di ruang digital. Dalam dunia kerja hybrid, ini mencakup kebijakan komunikasi yang jelas, penghargaan terhadap kerja asinkron, serta pengakuan atas hak untuk tidak selalu terhubung. Di sektor pendidikan, diperlukan desain pembelajaran yang memperhitungkan beban kognitif dan emosional peserta didik.
Dalam konteks media sosial, pembangunan budaya digital yang lebih reflektif dan berempati menjadi penting. Kualitas relasi perlu lebih dihargai dibandingkan intensitas keterlibatan.
Kelelahan digital merupakan sinyal bahwa konektivitas tanpa batas bukanlah kemajuan yang berkelanjutan. Ketika teknologi tidak lagi membuat manusia merasa terhubung secara bermakna, saat itulah diperlukan peninjauan ulang terhadap ekologi komunikasi digital. Teknologi seharusnya mendukung kesejahteraan manusia, bukan menjadi sumber kelelahan yang dinormalisasi.
ditulis oleh Dr. (Can.) Ressa Uli Patrissia, S.S., M.Ikom., AMIPR, pemerhati komunikasi dan teknologi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya