Sampit (ANTARA) - Dua unit Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, telah selesai 100 persen dibangun dan siap beroperasi, seiring percepatan pembangunan program nasional yang ditargetkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dari tingkat desa dan kelurahan.
“Alhamdulillah, hari ini kami menyaksikan peresmian 1.061 KDKMP seluruh Indonesia. Adapun, di Kotim saat ini ada dua KDKMP sudah selesai 100 persen pembangunannya dan siap beroperasi tahun ini juga sebagaimana program nasional,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kotim, Muslih di Sampit, Sabtu.
Hal ini ia sampaikan usai menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih oleh Presiden RI secara virtual di Desa Eka Bahurui Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Muslih menyampaikan, total ada 185 KDKMP di Kotim yang akan maupun sedang dibangun, meliputi 165 desa dan 17 kelurahan. Saat ini, dua KDKMP yang telah selesai dibangun berada di Desa Eka Bahurui dan Kelurahan Baamang Barat.
Namun untuk operasional kedua KDKMP tersebut, menunggu pengadaan sarana dan perlengkapan operasional dari pemerintah pusat. Pengadaan tersebut dilakukan secara terintegrasi sesuai standar nasional yang telah ditetapkan.
Muslih mengatakan, fasilitas yang nantinya diterima KDKMP cukup lengkap, mulai dari perlengkapan usaha, bahan kebutuhan pokok hingga kendaraan operasional seperti truk, pickup dan kendaraan roda tiga.
“Untuk operasional bagi KDKMP yang sudah tuntas pembangunannya, kita tinggal menunggu suplai bahan dan pengadaan dari pusat. Informasinya tahun ini juga operasionalnya sudah berjalan bagi KDKMP yang sudah 100 persen,” ucapnya.
Selain dua lokasi itu, terdapat 12 KDKMP lain yang sudah masuk tahap pembangunan. Beberapa desa juga mulai mempersiapkan proses pengerjaan fisik sebagai bagian dari target percepatan tahap kedua yang ditetapkan pemerintah pusat.
Disebutkan pula, bahwa progres pembangunan KDKMP di Kotim sejauh ini telah melampaui target tahap pertama. Pemerintah daerah pun terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kodim 1015/Sampit, guna mempercepat realisasi pembangunan hingga Agustus mendatang.
“Kami tadi juga sudah berbincang dengan Dandim 1015/Sampit bahwa pemerintah daerah akan selalu mendukung proses pembangunan ini dan percepatannya. Mudah-mudahan sampai Agustus target pembangunan KDKMP di Kabupaten Kotim bisa tercapai,” ujarnya.
Baca juga: Banjir masih merendam enam desa di Kotim
Muslih mengungkapkan, tantangan terbesar dalam pembangunan KDKMP saat ini adalah penyiapan lahan, khususnya di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang.
Kondisi tersebut berbeda dengan desa-desa yang sebagian besar telah memiliki lahan untuk pembangunan koperasi. Ia menyebut sekitar 80 persen desa tidak mengalami kendala berarti terkait penyediaan tanah.
“Kalau di desa hampir 80 persen sudah ada tanahnya, tinggal proses pembangunan. Yang agak sulit itu di daerah perkotaan karena keterbatasan lahan, sehingga kami menyiasati dengan pemanfaatan aset-aset daerah atau aset pemda yang memungkinkan digunakan untuk KDKMP,” jelasnya.
Meski sebagian bangunan belum selesai dibangun, operasional sejumlah Koperasi Merah Putih di Kotim disebut sudah berjalan. Beberapa koperasi sementara memanfaatkan bangunan pinjam pakai milik pemerintah kecamatan untuk melayani masyarakat.
Muslih mencontohkan kondisi tersebut terjadi di Kelurahan Mentawa Baru Hilir yang aktivitas koperasi sudah berjalan sambil menunggu pembangunan fisik rampung sepenuhnya.
Ia menambahkan, sejumlah KDKMP bahkan sudah mulai melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT), mengingat koperasi tersebut dibentuk sejak 2025 dan kini memasuki tahun operasional pertamanya.
“Sekarang kami juga sudah sering diundang menghadiri RAT karena koperasi ini usianya hampir satu tahun. Jadi tahun ini mulai ada RAT-RAT di masing-masing desa,” ucapnya.
Ia berharap keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperpendek rantai distribusi kebutuhan pokok di tingkat desa dan kelurahan.
Menurutnya, konsep KDKMP dirancang agar masyarakat menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi, termasuk dalam pengendalian harga barang tertentu seperti LPG agar lebih terjangkau bagi masyarakat.
“Harapan kami masyarakat mendukung keberadaan KDKMP ini karena tujuannya untuk menggerakkan ekonomi dari bawah. Nanti koperasi ini bisa menjadi agen berbagai kebutuhan masyarakat, misalnya LPG dijual dengan harga distributor sehingga harga di tingkat masyarakat bisa lebih terkendali,” demikian Muslih.
Baca juga: Ketua DPRD Kotim tekankan profesionalisme dan disiplin pengurus KDKMP
Sementara itu, Ketua KDMP Eka Bahurui, Harris Bayu menyampaikan gambaran terkait operasional koperasi tersebut. Mulai dari jam buka yang sementara ini menyesuaikan dengan jam kerja kantor desa sampai ada petunjuk teknis dari pusat, yakni buka pada Senin hingga Jumat.
“Jam operasional sementara jam kantor dulu, dari Senin sampai Jumat, buka mulai jam 07.00 sampai jam 14.00 WIB. Sabtu Minggu libur,” sebut Harris
Pembatasan jam operasional dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap keberlangsungan usaha warung kecil milik masyarakat sekitar agar tetap dapat bersaing dan tidak kehilangan pelanggan akibat hadirnya koperasi desa tersebut.
Ia mengungkapkan, sejak mulai diperkenalkan kepada masyarakat, koperasi itu mendapat respons cukup positif. Hingga saat ini jumlah anggota yang terdaftar telah mencapai 118 orang dan diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan koperasi.
Meskipun belum dibuka secara resmi lantaran menunggu suplai dari pusat, namun sebenarnya saat ini koperasi itu sudah mulai berjalan. Rak-rak toko kini telah terisi beras, minyak goreng, sabun hingga berbagai kebutuhan sembako lain.
Di gerai tersebut masyarakat sudah dapat membeli berbagai kebutuhan pokok harian dengan harga yang dinilai lebih terjangkau dibanding harga di pasaran.
“Untuk pengadaan beberapa komoditas utama seperti beras dan minyak goreng, kami bekerja sama dengan Bulog,” tambahnya.
Tidak hanya difokuskan sebagai tempat penjualan sembako, koperasi tersebut juga diproyeksikan menjadi wadah penampungan hasil pertanian dan hortikultura warga. Berbagai hasil kebun seperti sayuran, timun, terong hingga komoditas sawit direncanakan akan dipasarkan melalui koperasi agar membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Meski demikian, Harris mengungkapkan penyerapan hasil pertanian warga saat ini belum dapat berjalan maksimal karena masih terkendala keterbatasan pupuk yang dibutuhkan petani untuk meningkatkan produksi.
“Di sini lebih banyak hortikultura sama sawit. Sayur-sayuran warga nanti juga bisa masuk ke koperasi,” demikian Harris.
Baca juga: Dinsos Kotim jaring 270 murid baru Sekolah Rakyat
Baca juga: Perajin pisau sembelih di Sampit raup penghasilan jelang Idul Adha
Baca juga: BNNK Kotim intensifkan tes urine di THM cegah penyalahgunaan narkoba