Sampit (ANTARA) - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mulai melaksanakan penjaringan calon peserta didik untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 tahun ajaran 2026/2027 dengan kuota sebanyak 270 siswa.
“Target rekrutmen siswa baru tahun ajaran 2026/2027 untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kotim terdiri dari SD 90 siswa, SMP 90 siswa dan SMA 90 siswa, total 270 siswa,” kata Kepala Dinsos Kotim Hawianan di Sampit, Jumat.
Hawianan menjelaskan, kuota penerimaan siswa tersebut mengacu pada Surat Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Nomor 1745/1/DL.00.02/05/2026 yang menetapkan target rekrutmen siswa baru untuk Sekolah Rakyat di Kotim.
Sama seperti sebelumnya, proses penjaringan difokuskan kepada anak-anak dari keluarga miskin kategori desil satu dan desil dua, agar mendapat bantuan melalui sistem pendidikan gratis berbasis asrama.
Seleksi dilakukan melalui sistem penjangkauan langsung dengan mengacu pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) serta data Program Keluarga Harapan (PKH).
“Jadi berbeda dengan sekolah pada umumnya, dimana calon murid mendaftar langsung ke sekolah, pada Sekolah Rakyat ini, kami melalui tim PKH yang turun ke lapangan dengan berbekal DTSEN,” jelasnya.
Menurutnya, para pendamping sosial PKH saat ini terus melakukan pendataan sekaligus verifikasi calon siswa yang dinilai memenuhi kriteria untuk mengikuti program tersebut.
Langkah itu dilakukan agar penerima manfaat benar-benar berasal dari keluarga yang membutuhkan akses pendidikan.
Masyarakat juga diminta ikut berperan aktif dengan melaporkan kepada pendamping sosial di kecamatan apabila mengetahui ada anak dari keluarga tidak mampu yang belum bersekolah atau berisiko putus sekolah.
“Kalau ada masyarakat mengetahui anak dari keluarga miskin dan ingin sekolah, bisa melapor. Nanti PKH dan BPS akan memverifikasi. Jika memenuhi persyaratan maka anak tersebut bisa masuk ke Sekolah Rakyat,” ajak Hawianan.
Baca juga: Perajin pisau sembelih di Sampit raup penghasilan jelang Idul Adha
Hawianan menegaskan, mekanisme penerimaan siswa Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah umum karena seluruh tahapan seleksi dilakukan secara ketat agar program pendidikan tersebut tepat sasaran dan benar-benar menyentuh masyarakat miskin.
Selain itu, Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan berasrama sehingga seluruh siswa nantinya diwajibkan tinggal di asrama selama menjalani pendidikan. Para siswa juga akan mengikuti aturan pembinaan dan kegiatan belajar yang telah ditetapkan sekolah.
Program tersebut tidak hanya membebaskan biaya pendidikan, tetapi juga menanggung seluruh kebutuhan siswa selama menempuh pendidikan. Pemerintah menyediakan seragam sekolah, perlengkapan belajar, kebutuhan makan tiga kali sehari hingga camilan dua kali sehari secara gratis.
“Tenaga pengajar juga profesional dan bersertifikasi. Program ini bertujuan memberikan kesempatan pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.
Disamping itu, ia juga menyampaikan progres pembangunan gedung permanen SRT 55 Kotim yang berlokasi di Kompleks Wengga Metropolitan masih terus berjalan. Hingga saat ini progres pembangunan fisik disebut telah mencapai sekitar 42 persen.
Hawianan mengungkapkan, pemerintah menargetkan kegiatan belajar mengajar tahun ajaran 2026/2027 sudah dapat dilaksanakan di gedung permanen tersebut meski pembangunan masih menghadapi tantangan kondisi tanah gambut.
“Target tahun ajaran 2026/2027 nanti sudah bisa dilaksanakan di sekolah permanen yang saat ini sedang dibangun. Kendala terbesar di daerah kita pembangunan pondasi karena wilayah gambut,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan ruang kelas dan asrama ditargetkan selesai pada Juni 2026, sedangkan sejumlah fasilitas pendukung seperti lapangan olahraga direncanakan rampung pada September mendatang.
Seluruh proses pembangunan fisik SRT 55 Kotim tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial bersama Kementerian Pekerjaan Umum, sedangkan pemerintah daerah berfokus mendukung proses penjaringan siswa dan kesiapan pelaksanaan program pendidikan tersebut.
“Kami juga berharap pembangunan tersebut dapat segera selesai agar dapat segera dimanfaatkan, agar kegiatan belajar mengajar pun bisa lebih optimal,” demikian Hawianan.
Baca juga: BNNK Kotim intensifkan tes urine di THM cegah penyalahgunaan narkoba
Baca juga: Pemkab Kotim dapat pemasukan dari transaksi online melalui Mbizmarket
Baca juga: Bupati Kotim dorong kebangkitan koperasi Korpri