Sampit (ANTARA) - Meningkatnya kebutuhan perlengkapan kurban menjelang Idul Adha membawa berkah bagi Surya Dinar atau Amang I'in, perajin pisau asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang sukses meraup keuntungan dari usaha pembuatan pisau sembelih miliknya.
“Awalnya cuma suka pisau, lalu coba bikin sendiri. Lama-lama ternyata banyak yang suka. Semula cuman teman-teman yang pesan, sampai sekarang jual untuk masyarakat umum,” kata Amang I'in di Sampit, Jumat.
Amang I’in menceritakan, usaha rumahan yang telah dijalankannya selama lima tahun terakhir itu bermula dari rasa penasaran untuk membuat pisau sendiri.
Seiring waktu, hasil produksinya mulai dikenal dan diminati banyak orang, hingga kini pemasarannya tidak hanya terbatas di kalangan teman dekat.
Pisau buatannya diproduksi sekaligus dipasarkan di sebuah ruko di Jalan Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit.
Menjelang Idul Adha tahun ini, permintaan mulai meningkat dibanding hari biasa sehingga dirinya telah menyiapkan stok sejak dua bulan lalu.
Menurutnya, momentum hari raya kurban menjadi waktu paling sibuk dalam produksi pisau sembelih. Selain pisau berukuran besar untuk penyembelihan hewan kurban, ia juga banyak menerima pesanan pisau seset daging yang digunakan saat proses pengolahan daging.
“Biasanya memproduksi momen-momen tertentu saja, seperti momen Idul Adha ini. Bahannya dari baja gergaji serkel, dibentuk pakai gerinda, lalu dipanaskan dan disepuh,” jelasnya.
Baca juga: BNNK Kotim intensifkan tes urine di THM cegah penyalahgunaan narkoba
Dalam proses pembuatannya, Amang I'in menggunakan bahan dasar baja gergaji serkel. Meski tidak melalui proses tempa seperti pisau tradisional pada umumnya, ia mengaku mampu menghasilkan bilah pisau yang kuat, presisi dan sangat tajam.
Ia mengatakan, tahap paling sulit dalam pembuatan pisau terletak pada pembentukan bilah agar memiliki tingkat ketajaman yang maksimal. Proses tersebut membutuhkan ketelitian tinggi karena menentukan kualitas akhir pisau.
Untuk satu bilah pisau sembelih lengkap dengan gagang dan sarung, dirinya membutuhkan waktu pengerjaan sekitar satu minggu. Sedangkan pisau seset daging yang ukurannya lebih kecil dapat diselesaikan dalam waktu dua hari.
“Pisau sembelih lebih besar, panjangnya sekitar 25-40 centimeter, kalau pisau seset panjangnya sekitar 15-20 centimeter,” sebutnya.
Disamping kualitas bilah, ciri khas lain dari pisau buatannya terletak pada gagang berbahan kayu ulin dan sarung berbahan kulit. Penggunaan kayu ulin disebut menjadi identitas tersendiri yang membuat produknya lebih diminati pelanggan.
Menurut Amang I'in, kayu ulin dipilih karena memiliki karakter kuat, tahan lama dan memberikan tampilan khas Kalimantan pada setiap pisau yang diproduksi.
“Yang jadi pembeda itu di gagangnya pakai kayu ulin, jadi lebih khas dan kuat,” katanya.
Baca juga: Pemkab Kotim dapat pemasukan dari transaksi online melalui Mbizmarket
Pisau sembelih buatannya dijual dengan harga mulai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per bilah. Selain memproduksi sendiri, ia juga menjual pisau sembelih lokal dengan harga mencapai Rp1 juta, sementara pisau impor dipasarkan dengan harga di atas Rp1 juta.
Ia mengungkapkan, produk yang paling banyak dicari pelanggan adalah pisau di kisaran harga Rp500 ribu karena dinilai memiliki kualitas baik dengan harga yang masih terjangkau.
Namun bagi kolektor maupun pecinta pisau, biasanya lebih memilih bahan premium dengan kualitas lebih tinggi.
“Setiap pisau keuntungan Rp50 ribu untuk pisau seset daging, kalau untuk pisau sembelih sampai Rp200 ribu, tergantung juga sama ukuran, jenisnya, dan bahannya,” bebernya.
Saat momentum Idul Adha tahun lalu, Amang I'in berhasil menjual sekitar 40 pisau sembelih dan lebih dari 100 pisau seset daging. Pemasaran produknya kini juga telah menjangkau luar Kalimantan, mulai dari Pulau Jawa hingga Sulawesi.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada pelanggan dari luar Kalimantan juga, terakhir kirim ke daerah Palu,” demikian Amang I’in.
Baca juga: Bupati Kotim dorong kebangkitan koperasi Korpri
Baca juga: Luapan Sungai Tualan sebabkan banjir dan longsor di wilayah utara Kotim
Baca juga: Legislator Kotim ajak masyarakat gunakan penerbangan di Sampit