Pangkalan Bun (Antara Kalteng) - Perajin sepatu lokal asal Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, tidak mau kalah bersaing dengan produk sepatu asal Jawa, terutama dari Cibaduyut Jawa Barat.
Salah satu perajin sepatu lokal yang sudah membuktikan kesuksesannya yakni Sulaiman, warga Perumahan Tanjung Puting Permai, Desa Pasir Panjang, Pangkalan Bun.
Sejak merantau ke Pangkalan Bun pada tahun 1997, lelaki asal Palembang itu mengaku kini sudah memiliki rumah dan galeri pembuatan sepatu sendiri yang dibangun tepat disamping rumahnya.
Namun demikian, ia menuturkan, usahanya dibangun dengan jatuh bangun, sampai suatu ketika ada kepercayaan dari salah satu bank di Pangkalan Bun, yang memberikan pinjaman dengan batas waktu kredit hingga 12 bulan.
Dengan modal dari bank, ia memproduksi 300 pasang sepatu, kemudian ditawarkan ke salah satu toko di Pasar Indera Sari Pangkalan Bun. Tak dinyana toko itu membeli habis dengan harga Rp 12.000 per pasang.
Ia merasa aneh dengan aksi borong tersebut, bahkan kalau ada barang lagi untuk tidak menjualnya ke toko lain. “Waktu itu saya gembira, sepatu yang saya bawa itu laku terjual hanya pada satu toko saja dengan harga yang fantastis Rp 12.000 saja, padahal modalnya cuma Rp 8.000 saja untuk sepatu olahraga, tapi saya heran kok orang toko itu mau beli semuanya,†cerita Sulaiman.
Pinjaman bank yang seharusnya dicicil 12 bulan pun, akhirnya bisa dilunasi hanya satu bulan tanpa menunggu lama.
Kemudian hari, Sulaiman kembali membawa sepatu yang lebih banyak lagi, dan dicoba dengan harga yang lebih mahal lagi, yakni Rp 15.000, tetap saja dibeli habis oleh pemilik toko tersebut tanpa harus menawar. Bahkan pemilik toko itu berharap agar tidak menjual ke toko lain jika barangnya ada lagi.
Pada hari yang sama, cerita Sulaiman, di Losmen dirinya menginap, ada orang yang menggunakan sepatu yang pernah dijual ke toko tersebut, dan ketika ditanya berapa harga sepatu itu, dijawabnya kalau dirinya membeli sepatu itu dengan harga yang murah, yakni Rp 180.000. Ia tentunya kaget dengan keuntungan yang luar biasa, karena ia menjual Rp 15.000 kemudian dijual Rp 180.000.
Tidak menunggu lama, Sulaiman melihat banyaknya peminat dan membaca peluang yang ada di kota Pangkalan Bun, maka diputuskan mengajak istrinya untuk sama-sama merantau ke Pangkalan Bun. Dengan membawa semua peralatan mesin pembuat sepatu dari Jakarta ke Pangkalan Bun, ia memulai kerja kerasnya walau pun sempat beberapa kali gulung tikar karena terbatasnya modal usaha.
Kemudian tragedi kerusuhan yang sempat berimbas di Pangkalan Bun, ia sempat menjadi kuli bangunan dan penjual makanan ringan bersama istrinya. Namun dirinya kemudian menggeluti lagi produksi sepatu dan tetap yakin pada usaha yang didirikannya sejak remaja tersebut.
Juga ada motivasi yang diberikan Bupati dan Wakil Bupati Kotawaringin Barat, tidak disia-siakan.
Kini Sulaiman sudah banyak dikenal di masyarakat luas dengan karya sepatunya, tidak hanya di Kotawaringin Barat, tetapi juga luar kota.
Dengan kualitasnya yang sangat kuat, pengusaha sepatu “SL†ini juga meyakinkan pelanggannya dengan memberikan garansi 1 tahun jika rusak akan diservis ulang tanpa biaya tambahan. Tak heran dengan dengan kualitas yang super dan garansi yang ditawarkan banyak daerah dari luar Pangkalan Bun yang memesan produk milik Karya Mandiri SL sepatu buatan Sulaiman.
Bahkan beberapa instansi memesan pada produsen Karya Mandiri SL untuk sepatunya, seperti Basarnas Banjarmasin, Paskibraka Kabupaten Lamandau, Sukamara, dan Kotim, serta Pemerintah Kota Samarinda Kaltim.
Ia mengungkapkan, dalam 1 bulan omzet kerajinan sepatu yang diberi nama Karya Mandiri SL ini bisa mencapai Rp 40 juta Rp hingga 80 juta rupiah.
