
Dinkes Kotim ingatkan risiko diare dan ISPA saat kemarau

Sampit (ANTARA) - Menjelang musim kemarau 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap risiko penyakit diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kalau bicara soal musim kemarau, maka biasanya ada dua penyakit yang sering berkembang, yakni diare dan ISPA. Oleh karena itu, masyarakat diimbau waspada mengingat kita sudah mendekati musim kemarau,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho di Sampit, Jumat.
Ia menjelaskan, imbauan ini disampaikan berdasarkan perkembangan kasus diare dan ISPA pada tahun-tahun sebelumnya. Contohnya, pada minggu pertama Januari 2025 tercatat ada 69 kasus diare dan 379 kasus ISPA, lalu untuk minggu kedua kasus diare masih sama tapi untuk ISPA meningkat menjadi 438 kasus.
Dibandingkan dengan 2026 ini, tren peningkatan sudah mulai terlihat. Pasalnya pada minggu pertama Januari 2026 tercatat ada 96 kasus diare dan 323 kasus ISPA, sedangkan untuk minggu kedua 229 kasus diare dan 628 kasus ISPA.
“Kalau untuk ISPA memang peningkatannya signifikan, mungkin karena pengaruh cuaca yang tidak stabil atau hal lain, karena ISPA ini banyak penyebabnya. Tetapi insyaallah saat ini masih dalam kondisi terkendali dan jika mengacu pada data 2024-2025 biasanya pada minggu ketiga itu mulai turun,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk melakukan antisipasi dini, khususnya untuk penyakit diare yang harus segera ditangani atau dibawa ke fasilitas kesehatan (faskes) dalam waktu 1x24 jam agar mendapat tindakan medis.
Ia menceritakan, belum lama ini ada anak di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu, yang mengalami diare dan pada akhirnya tidak dapat diselamatkan karena pihak keluarga terlambat membawanya ke faskes.
Baca juga: Realisasi 143 persen PBG jadi andalan baru PAD Kotim
Kasus ini hendaknya menjadi warning (peringatan) bagi masyarakat lainnya agar lebih berhati-hati.
“Untuk diare ini biasanya yang paling fatal karena kalau terlambat mendapat penanganan, baik itu pengobatan atau terlambat membawa ke faskes. Untuk itu, masyarakat pun harus jeli, kalau melihat gejala diare sebaiknya segera bawa ke faskes terdekat,” imbuhnya.
Nugroho menambahkan, beberapa upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit, khususnya diare dan ISPA antara lain bersiap menghadapi perubahan siklon tropis dengan tidak membakar hutan dan lahan.
Ia menekankan, bahwa pembakaran hutan dan lahan bukan hanya berdampak buruk terhadap lingkungan tetapi juga kesehatan, karena asap dan jelaga yang dihasilkan dari pembakaran tersebut bisa mengganggu saluran pernafasan.
“Jadi untuk antisipasi di bidang kesehatan yang pertama itu, karena kebakaran hutan dan lahan itu sangat erat kaitannya dengan kesehatan. Jadi jangan membakar hutan dan lahan,” tegasnya.
Kemudian, memastikan ketersediaan air bersih terpenuhi selama musim kemarau, baik itu untuk memasak, mencuci maupun mandi. Ia menyebutkan, bahkan untuk mencuci peralatan makan dengan air tidak bersih berisiko menyebabkan diare, apalagi jika air untuk konsumsi.
“Selain itu, masyarakat diimbau menerapkan hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan terutama sebelum dan setelah makan. Lalu, kalau tangan kotor hindari menyentuh bagian hidung dan mulut, karena bisa berdampak pada infeksi saluran pernafasan,” demikian Nugroho.
Baca juga: Pemkab Kotim buktikan tetap tingkatkan infrastruktur meski efisiensi anggaran
Baca juga: Pembangunan infrastruktur Kotim tetap prioritas meski DBH sawit menyusut
Baca juga: Legislator Kalteng ini tidak setuju kepala daerah dipilih DPRD
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
