Sudah 3.156 pemudik kembali melalui Pelabuhan Sampit

id Sudah 3.156 pemudik kembali melalui Pelabuhan Sampit,Lebaran,Arus mudik,Arus balik,Lebaran ,Pelabuhan Sampit

Penumpang arus balik Lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah saat tiba di Pelabuhan Sampit. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (ANTARA) - Arus balik Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah dari Pulau Jawa terus mengalir melalui Pelabuhan Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah.

"Sampai hari ini, jumlah penumpang yang turun di Pelabuhan Sampit sebanyak 3.156 jiwa dan penumpang naik 1.543 jiwa. Sedangkan kendaraan turun 63 unit dan kendaraan naik 32 unit," kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sampit Thomas Chandra melalui Humas Oktavia Sukma Burnama di Sampit, Rabu.

Arus balik di Pelabuhan Sampit terjadi mulai Jumat (7/6) lalu dengan tibanya KM Leuser dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan menurunkan 19 penumpang arus balik di Pelabuhan Sampit.

Arus balik Lebaran melalui Pelabuhan Sampit akan terus mengalir, apalagi ada tradisi masyarakat Jawa merayakan Lebaran Ketupat pada satu pekan setelah Lebaran Idul Fitri sehingga pemudik diperkirakan masih bertahan di kampung halaman mereka.

Pemerintah sendiri menetapkan Posko Terpadu beroperasi sejak H-15 hingga H+15 Lebaran atau sejak 21 Mei hingga 21 Juni 2019. Bahkan berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, arus balik akan terus terjadi hingga lebih dari satu bulan.

Sejauh ini penyelenggaraan arus mudik dan arus balik Lebaran berjalan lancar. Koordinasi yang baik antar semua pihak terkait, termasuk penumpang, membuat penyelenggaraan arus penumpang berlangsung tertib.

"Selain penumpang yang tiba, penumpang yang bertolak dari Pelabuhan Sampit juga terus mengalir. Hari ini KM Kelimutu berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Emas Semarang membawa 242 penumpang," jelas Oktav.

Sementara itu, Manajer PT Dharma Lautan Utama Cabang Sampit Hendrik Sugiharto bahkan memprediksi arus balik Lebaran Idul Fitri di Pelabuhan Sampit tahun ini berlangsung hingga dua bulan ke depan.

"Pemerintah menghitung arus balik hanya sampai H+15, tetapi biasanya masyarakat dari Jawa itu mudik bisa satu sampai dua bulan. Jadi, arus balik akan terus berlangsung dari warga-warga yang mudik lebaran tersebut," kata Hendrik.

Fenomena itu memang terjadi di Kotawaringin Timur. Mereka yang mudik melalui Pelabuhan Sampit didominasi pekerja perkebunan kelapa sawit yang berasal dari Jawa.

Selain itu, banyak pula yang pemudik yang berprofesi sebagai pedagang. Mereka inilah yang terkadang mudik dalam waktu lama hingga lebih dari satu bulan, baru kembali ke Kotawaringin Timur.

Fenomena lainnya, jumlah penumpang arus balik biasanya meningkat dibanding saat arus mudik lebaran. Hal itu lantaran banyak yang warga luar daerah yang datang mengadu nasib mencari pekerjaan di Kotawaringin Timur.


Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar