Facebook menempati posisi pertama penyebaran hoaks di awal tahun

id facebook,mafindo,penyebaran hoaks,media sosial

Facebook menempati posisi pertama penyebaran hoaks di awal tahun

Tangkapan layar saluran penyebaran hoaks di awal kuartal I-2023 dalam Webinar Mafindo "Litbang Talk #01", Rabu (3/5/2023). (ANTARA/Narda Margaretha Sinambela)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) Linda Salma mengungkapkan bahwa Facebook menjadi salah satu platform media sosial yang paling banyak menyebar hoaks di kuartal I tahun 2023.


"Ada lima besar saluran hoaks yang digunakan pada kuartal I tahun 2023 dimulai dari Facebook, disusul tempat kedua Youtube, Twitter, TikTok dan WhatsApp," ujar Linda dalam webinar Mafindo "Litbang Talk #01" di Jakarta, Rabu.

Adapun posisi lima teratas sebagai kanal penyebaran hoaks dipegang oleh Facebook dengan 218 temuan (33 persen), Youtube 214 temuan (32 persen), Twitter 93 temuan (14 persen), TikTok 49 temuan (8 persen) dan WhatsApp 48 temuan (7 persen)

"Kenaikan cukup signifikan terjadi pada Youtube bila dibandingkan dengan tahun 2022. Hal ini dapat menguatkan bahwa penggunaan informasi visual menjadi andalan untuk menyampaikan hoaks," katanya.

Selain itu, Linda mengklasifikasikan tipe narasi dalam hoaks menjadi beberapa bagian. Narasi tipe pipe dream dengan 262 temuan (39 persen) berada di posisi pertama di kuartal I-2023 ini.

Ia menilai tipe ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tampaknya sangat idealis atau spektakuler, tetapi sebenarnya tidak mungkin terjadi atau dicapai (too good to be true).

Kemudian, tipe wedge driver dengan 247 hoaks (37 persen) yang menunjukkan bahwa narasi cenderung menggunakan kata-kata atau frasa yang merendahkan atau merugikan suatu kelompok atau individu tertentu dengan tujuan membangkitkan sentimen negatif terhadap sesuatu atau pihak tertentu.

"Ini menunjukkan bahwa harapan dan kebencian adalah dua hal yang paling banyak digunakan untuk memicu reaksi emosional dari pembaca," tambah dia.

Menurut Linda, gambar dan video paling banyak digunakan sebagai penguat klaim dengan temuan sebesar 81 persen. Untuk klaim hoaks juga terkadang disematkan dalam caption atau dalam gambar/video yang dibagikan.

Para penyebar hoaks juga paling banyak mencatut Pemerintah Indonesia dan pihak campuran. Ia melihat pihak ini sekaligus menjadi target sentimen negatif yang ditumbuhkan melalui hoaks.

Sehingga, kata dia, dominasi pada kategori ini menunjukkan bahwa hoaks dapat mencatut siapapun dan patut diwaspadai sebagai upaya menurunkan kepercayaan kepada pihak yang dicatut.

Meski begitu, Linda menyebut sekitar 70 persen inisiatif klarifikasi berasal dari pemeriksa fakta independen dengan jumlah kasus hoaks sekitar 468 disusul oleh Media Masa dengan 114 temuan (17 persen) di kuartal I-2023.

"Perlu dicatat bahwa komposisi ini hanya merepresentasikan klarifikasi yang dikompilasi pada turnbackhoax.id," ujar Linda.