
Ahli ungkap pengendalian LDL-C bisa mencegah komplikasi jantung dan stroke

Jakarta (ANTARA) - Proses penurunan kadar Low-Density Lipoprotein-Cholesterol (LDL-C) membutuhkan waktu dan komitmen disiplin yang berkelanjutan, bukan sekadar penanganan instan.
Kepala Departemen Kardiovaskular Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD., K-KV., menyatakan pengendalian LDL-C harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mencegah komplikasi fatal seperti serangan jantung dan stroke.
"Banyak pasien yang belum berhasil mencapai target kolesterol LDL ideal karena kurangnya konsistensi, baik dalam gaya hidup maupun terapi medis," kata Birry dalam seminar kesehatan di RS Medistra, Jakarta, Selasa.
Birry Karim menjelaskan bahwa efek dari intervensi, terutama melalui terapi medis, tidak terlihat dalam waktu singkat, namun pengaruhnya pasti ada.
"Obat-obatan itu tidak hari ini [diminum] besok turun. Efeknya itu baru terlihat dalam empat sampai enam minggu," ujar dia.
Birry menekankan bahwa pasien seringkali kurang sabar dan tidak konsisten dalam rentang waktu terapi tersebut.
Dia juga mengingatkan bahwa target LDL-C harus dipertahankan secara berkelanjutan, apalagi bagi pasien berisiko tinggi yang harus mencapai angka ideal di bawah 55 mg/dL.
Selain kepatuhan terhadap terapi, Birry Karim menggarisbawahi pentingnya modifikasi gaya hidup yang konsisten, meliputi pengaturan pola makan dengan mengurangi asupan tinggi lemak dan kolesterol, serta olahraga teratur yang direkomendasikan 30 sampai 60 menit per sesi.
Birry menyimpulkan bahwa kegagalan mencapai target LDL-C di Indonesia (hanya 3,6 persen pasien mencapai target yang ideal, berdasarkan survei kesehatan Indonesia atau SKI 2023 oleh Kementerian Kesehatan) sebagian besar disebabkan oleh tantangan kepatuhan terhadap dua faktor ini.
Oleh karena itu, kesadaran dan disiplin diri yang tiada henti ditekankan dalam seminar sebagai upaya menekan angka gangguan kesehatan kardiovaskular di Indonesia.
Menurut Kementerian Kesehatan (2025), sekitar 800.000 orang di Indonesia meninggal akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya.
Badan Kesehatan Dunia atau WHO (2021) juga melaporkan bahwa tiga dari sepuluh penyebab kematian terbanyak di Indonesia merupakan kardiovaskular: stroke (140,8 per 100.000; peringkat 2), penyakit jantung iskemik (90,4; peringkat 3), dan penyakit jantung hipertensi (20,9; peringkat 8).
Dengan populasi Indonesia sekitar 286 juta orang, seminar tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kadar kolesterol jahat (LDL-C) serendah mungkin untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.Pasalnya, LDL-C dapat menumpuk di dinding pembuluh darah, memicu peradangan dan penyempitan, serta menjadi faktor utama penyakit kardiovaskular.
Pewarta : Abdu Faisal
Editor:
Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
