Logo Header Antaranews Kalteng

Vr bantu lansia AS atasi kesepian dan perlambat demensia

Minggu, 28 Desember 2025 09:45 WIB
Image Print
Ilustrasi headset VR (Pixabay)

California (ANTARA) - Di Los Gatos, California, terdapat komunitas pensiunan bernama The Terraces, yang menggunakan teknologi realitas virtual (Virtual Reality/VR) dan menjadi tempat tinggal yang tenang bagi sekelompok lansia yang tidak lagi mampu bepergian jauh atau melakukan petualangan berani.

Laman ABC, Kamis (25/12) waktu setempat, menceritakan, dengan teknologi ini para penghuni lansia tetap bisa kembali merasakan masa-masa penuh gairah berkelana dan mencari sensasi setiap kali para pengasuh di komunitas tersebut menjadwalkan sesi.

Dalam hitungan menit, headset VR tersebut dapat membawa mereka, yang rata-rata berusia 80-90 tahun itu, ke Eropa, menyelam ke kedalaman laut, atau terbang dalam pengalaman paralayang yang menakjubkan, sambil mereka duduk berdekatan satu sama lain.

Pilihan program VR ini dikurasi oleh Rendever, sebuah perusahaan yang mengubah teknologi yang terkadang bersifat mengisolasi menjadi pemicu peningkatan fungsi kognitif dan hubungan sosial di 800 komunitas pensiun di Amerika Serikat dan Kanada.

Sekelompok penghuni The Terraces yang mengikuti sesi VR awal tahun ini terlihat mengayunkan tangan di samping kursi mereka seolah berenang bersama sekelompok lumba-lumba, saat menonton salah satu program 3D dari Rendever.

“Kami bisa menyelam ke bawah air tanpa harus menahan napas!” seru Ginny Baird, 81 tahun, setelah pengalaman virtual tersebut.

Dalam sesi lain yang menampilkan perjalanan virtual dengan balon udara panas, seorang penghuni berseru, “Ya Tuhan!” Penghuni lainnya bergidik dan berkata, “Sulit untuk melihatnya!”

Teknologi Rendever juga dapat digunakan untuk membawa para lansia kembali secara virtual ke tempat-tempat masa kecil mereka.

Bagi sebagian orang, ini adalah pertama kalinya mereka melihat kampung halaman mereka setelah puluhan tahun.

Perjalanan virtual ke lingkungan masa kecilnya di wilayah Queens, New York City, membuat Sue Livingstone, 84 tahun, yakin akan manfaat teknologi VR, meskipun ia masih lebih sering bepergian dibanding banyak penghuni lain di The Terraces, yang berlokasi di Silicon Valley sekitar 55 mil di selatan San Francisco.

“Bukan hanya soal bisa melihatnya lagi, tetapi tentang semua kenangan yang muncul kembali. Ada beberapa orang yang tinggal di sini yang hampir tidak pernah keluar dari zona nyaman mereka. Tetapi jika bisa membujuk mereka untuk mencoba headset, mereka mungkin akan menemukan bahwa mereka benar-benar menikmatinya.” kata Livingstone.

Rendever, perusahaan swasta yang berbasis di Somerville, Massachusetts, berharap dapat mengembangkan platform hunian lansianya dengan dukungan hibah terbaru dari National Institutes of Health senilai hampir 4,5 juta dolar AS (Rp75,47 miliar), untuk meneliti cara mengurangi isolasi sosial pada lansia yang tinggal di rumah serta para pengasuh mereka.

Beberapa studi menemukan bahwa program VR yang disajikan dalam durasi terbatas dapat membantu lansia mempertahankan dan meningkatkan fungsi kognitif, memperkuat ingatan, serta mendorong hubungan sosial dengan keluarga dan sesama penghuni fasilitas perawatan.

Para ahli mengatakan teknologi ini sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti, aktivitas lainnya.

“Selalu ada risiko jika waktu menatap layar terlalu lama,” kata Katherine “Kate” Dupuis, seorang neuropsikolog dan profesor yang meneliti isu penuaan di Sheridan College, Kanada.

“Namun jika digunakan secara hati-hati, dengan makna dan tujuan yang jelas, teknologi ini bisa sangat bermanfaat. Ini bisa menjadi kesempatan bagi lansia untuk berinteraksi dengan orang lain dan berbagi rasa kagum.” tambahnya.

Menurut Pallabi Bhowmick, peneliti di University of Illinois Urbana-Champaign yang mempelajari penggunaan VR pada lansia, headset VR mungkin lebih mudah digunakan dibanding ponsel pintar atau perangkat lain yang mengharuskan pengguna menavigasi tombol dan mekanisme tertentu.

“Stereotip bahwa orang lanjut usia tidak mau mencoba teknologi baru perlu diubah, karena mereka sebenarnya mau dan ingin beradaptasi dengan teknologi yang bermakna bagi mereka,” kata Bhowmick.

Bhowmick mengatakan, selain membantu mengurangi stres, memberikan hiburan, dan menghubungkan mereka dengan orang lain, ada juga aspek lintas generasi yang dapat membantu mereka membangun hubungan dengan generasi muda.

Minat CEO Rendever, Kyle Rand, untuk membantu neneknya sendiri menghadapi tantangan emosional dan mental akibat penuaan mendorongnya menempuh jalan yang akhirnya membuatnya ikut mendirikan perusahaan tersebut pada 2016, setelah mempelajari neuroengineering di Duke University.

Pasarnya cukup besar sehingga perusahaan VR lain, Mynd Immersive yang berbasis di Dallas, juga bersaing dengan Rendever dengan layanan yang disesuaikan untuk komunitas hunian lansia.

Selain membantu membangun hubungan sosial, program VR dari Rendever dan Mynd juga digunakan sebagai alat potensial untuk memperlambat dampak buruk demensia.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026