Jakarta (ANTARA) - Sutradara Ric Roman Waugh mengemukakan sebuah ironi terkait benda langit mendekati bumi yang sebenarnya sangat umum terjadi, bahkan sudah terlacak sebelum pengerjaan film "Greenland" (2020) yang pertama.
"Lucunya adalah, ketika kami membuat film pertama, saya bisa memberi tahu Anda tentang 400 ATLAS lain yang terbang sangat dekat dengan Bumi yang juga kami lacak," ujar Waugh dalam wawancara yang dikutip dari Gizmodo di Jakarta, Rabu.
Waugh merujuk pada objek antarbintang yang dideteksi melintas sangat dekat dengan bumi oleh sistem pelacakan ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) dan dinamai 3I/ATLAS pada 2025.
Ia mengatakan orang-orang tidak menyadarinya bukan karena tidak tahu fenomena itu terjadi konstan. Orang-orang hanya bersandar pada adanya harapan.
"Anda harus mendefinisikan apa arti 'dekat Bumi'; beberapa masih berjarak ribuan, bahkan jutaan mil, sementara yang lain jauh lebih dekat," kata Waugh.
"Entah kita percaya atau tidak, entah kita mengatakannya atau tidak. Saya pikir kita semua sangat takut akan betapa kecilnya kita dan semua hal yang sebenarnya dapat membahayakan kita. Dan mengapa tidak merasakan pengalaman orang lain dan melihat bagaimana situasi itu berkembang daripada harus mengalaminya sendiri?"
Melalui sekuel filmnya, tim produksi akan menyampaikan pesan optimistis bahwa manusia dapat bertahan melewati apa pun melalui solidaritas dan kebersamaan, yang ia kaitkan dengan keberanian manusia beraktivitas kembali pasca-pandemi COVID-19.
"Setelah COVID-19, kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita akan tetap di dalam rumah kita, atau kita akan berani dan keluar dan mulai menjalani hidup kita lagi (dan mengingat) mengapa kita seharusnya berada di sini sejak awal? Dan saya pikir semua yang mendorong Greenland 2 adalah tentang itu," kata Waugh.
Dalam membangun visual dunianya, Waugh tidak mencoba membuat dokumenter, melainkan menggunakan situasi di dunia nyata sebagai landasan kreatif dalam merancang segmen ilmiah dalam cerita fiksi ini.
Waugh dan timnya menyusun teori mengenai rupa vegetasi dan atmosfer Bumi yang hancur di semesta fiksinya dengan merujuk pada fenomena kebakaran hutan di Australia dan California, serta kondisi ekosistem di "Hutan Merah" Chernobyl.
Teori itu disusun untuk membayangkan gambaran lingkungan saat sistem pengamanan nuklir gagal dan radiasi bocor menembus atmosfer pasca-hantaman komet.
Waugh menjelaskan sekuel filmnya tetap fokus pada narasi keluarga Garrity (yang diperankan oleh Gerard Butler dan Morena Baccarin) dengan misi yang kini beralih dari sekadar mencari perlindungan di bunker menjadi perjalanan menuju kawah (crater) yang dibentuk tumbukan komet.
Perjalanan karakter menuju titik tumbukan komet itu membawa pesan filosofis tentang perbedaan besar antara sekadar bertahan hidup (survive) dengan benar-benar menjalani hidup kembali (living).
Meski menyertakan bencana radiasi, banjir, hingga badai dahsyat, Waugh memastikan seluruh elemen tersebut disampaikan melalui sudut pandang kemanusiaan.
Ia mengeksplorasi perilaku egois manusia melawan sikap tanpa pamrih di tengah populasi yang tidak stabil. Judul "Migration" sendiri merujuk pada itu.
Waugh ingin menggambarkan naluri dasar setiap spesies untuk bermigrasi demi menemukan tempat tinggal permanen dan membangun komunitas baru.
Waugh kembali memilih Gerard Butler karena kemampuannya memerankan pahlawan nyata yang memiliki kerentanan.
Ia berkata bahwa tata peran sengaja menghindari karakter yang terasa "plastik" seperti sosok setinggi sepuluh kaki, kebal peluru, dan tanpa cela, karena penonton lebih terhubung dengan manusia yang memiliki kekurangan dan "iblis" dalam diri mereka sendiri.Film Greenland 2: Migration dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Januari 2026.
