Kapolres Kotim tekankan pentingnya literasi digital sejak dini

id Polres Kotim, kalteng, Sampit, kotim, Kotawaringin Timur, radikalisme, game online, Resky Maulana

Kapolres Kotim tekankan pentingnya literasi digital sejak dini

Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain menanggapi terkait isu penyebaran paham radikal di Kotim, Kamis (8/1/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah AKBP Resky Maulana Zulkarnain menekankan pentingnya penguatan literasi digital sejak dini, menyusul temuan adanya anak di bawah umur yang terpapar pengaruh negatif melalui platform permainan daring (game online).

“Kasus ini lebih kepada brainwash (cuci otak) yang difasilitasi ruang digital. Maka dari itu, perlu literasi digital kepada anak muda saat ini, terlebih sekarang ini korbannya adalah anak-anak,” kata Resky di Sampit, Kamis.

Menanggapi isu yang berkembang mengenai dua anak di bawah umur di Kotim yang terpapar paham radikal, Resky menjelaskan bahwa yang dialami oleh dua anak tersebut lebih kepada paham yang membenarkan kekerasan atau ekstremisme, bukan radikalisme.

Radikalisme seringkali dikaitkan dengan ideologi agama atau kepercayaan, sedangkan dalam kasus ini tidak ada unsur agama. Hal ini penting dipahami, karena penanganan kasus pada kedua paham tersebut berbeda.

Radikalisme mengarah pada paham yang merupakan fase menuju terorisme dan jika ditemukan bisa langsung ditangkap, sedangkan dalam kasus ini kedua anak tersebut masih bisa dibina karena dianggap sebagai korban.

“Kami juga turut serta dalam memberikan pembinaan saat itu dan ini dikembalikan kepada pemerintah daerah untuk melakukan pembinaan lebih lanjut, karena kedua anak ini adalah korban. Selain itu, peran orang tua, sekolah dan UPT PPA juga sangat penting dalam pembinaan ini,” ujarnya.

Baca juga: Masyarakat Kotim adu ketangkasan bagasing lestarikan kekayaan budaya warisan leluhur

Resky juga mengungkapkan bahwa temuan di Kotim ini masih ada hubungannya dengan kasus pengeboman yang dilakukan pelajar SMAN 72 Jakarta. Karena rupanya grup WhatsApp yang digunakan anak-anak tersebut sama, yakni grup bernama True Crime Community (TCC)

Hal ini berdasarkan investigasi Densus 88 Antiteror Polri bahwa ada 70 anak di 19 provinsi di Indonesia yang terpapar ekstremisme dan tergabung dalam grup TCC tersebut, dua di antaranya berada di wilayah Kalimantan Tengah, tepatnya Kotim.

Modusnya rata-rata sama, yakni menggunakan game online sebagai pintu masuknya. Salah satunya, pada game populer Roblox yang di dalamnya terdapat moda permainan tertentu seperti Murder Mystery 2 (MM2).

“Oknum tersebut mencuci otak melalui game tersebut, lalu nanti akan dikasih link (tautan) menuju grup WhatsApp. Ketika sudah masuk grup Whatsapp korbannya akan mendapat postingan atau konten terus untuk mencuci otaknya, sampai dia terpapar,” terangnya.

Ia menambahkan, temuan di Kotim ini akan menjadi atensi pihaknya ke depan khususnya dalam pelaksanaan program Police Go To School. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi langsung kepada para siswa dan guru mengenai bahaya laten di dunia maya.

Beberapa poin utama yang akan disosialisasikan antara lain mengajarkan anak untuk memfilter konten yang mereka konsumsi, mendorong orang tua untuk lebih peduli terhadap aktivitas digital anak, serta memberikan pemahaman mengenai bahaya grup-grup daring yang mengagungkan kekerasan atau perilaku sadistis.

“Ini selalu kami sampaikan pada saat kami menjadi pembina apel di sekolah-sekolah. Literasi digital adalah benteng utama agar anak-anak kita tidak mudah terjebak dalam jaringan yang merugikan masa depan mereka,” demikian Resky.

Baca juga: Sukses lampaui target, KSOP Sampit bertekad terus tingkatkan kinerja

Baca juga: Job Fair Sampit 2026 sediakan ratusan lowongan pekerjaan

Baca juga: Juan Reza sukses pukau pengunjung Sampit Expo di tengah guyuran hujan


Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.