Logo Header Antaranews Kalteng

Risiko kemalasan intelektual akibat AI

Kamis, 12 Maret 2026 14:47 WIB
Image Print
Ilustrasi gaya hidup sedentary (Antara/pexels.com)

Beijing (ANTARA) - Seorang penasihat politik China mengatakan pada Rabu (11/3) bahwa kalangan pelajar harus dibimbing untuk menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara rasional dan menghindari "kemalasan intelektual" karena AI mengubah pendidikan dan peran guru.

Xu Kun, presiden Universitas Pos dan Telekomunikasi Beijing (Beijing University of Posts and Telecommunications/BUPT) mengatakan bahwa AI merupakan pedang bermata dua yang memerlukan komitmen pada prinsip "teknologi untuk kebaikan".

Berbicara kepada para reporter di sela-sela pertemuan tahunan Komite Nasional CPPCC, Xu memaparkan bagaimana AI mengubah proses pembelajaran dengan melampaui metode pengajaran standar untuk mengakomodasi kemajuan individual murid.

"Dari sudut pandang pengajaran, AI sedang membentuk kembali peran guru," kata Xu, seraya menambahkan bahwa teknologi tersebut membebaskan pendidik dari tugas-tugas berulang dan memungkinkan mereka lebih berfokus pada upaya menumbuhkan kreativitas serta rasa ingin tahu para murid.

Xu menggambarkan AI sebagai katalis yang mempercepat reformasi pendidikan, dengan membayangkan lingkungan belajar masa depan yang terbuka, berbasis data, dan terintegrasi dengan situasi dunia nyata. Menurut dia, hal ini akan meruntuhkan hambatan geografis dan membuat pendidikan berkualitas dapat diakses oleh semua murid.

Namun, dia menekankan bahwa di tengah upaya memanfaatkan potensi AI, penguatan pendidikan etika juga sangat penting. "Kita harus membimbing murid untuk menggunakan AI secara tepat dan secukupnya, serta menghindari kemalasan intelektual," ujar dia, demikian Xinhua.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026