Logo Header Antaranews Kalteng

Terlalu lama diam picu serangan jantung

Senin, 6 April 2026 15:48 WIB
Image Print
Ilustrasi serangan jantung. (ANTARA/HO-Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr. Sanjay Bhojraj mengatakan bahwa berdiam diri selama berjam-jam dapat meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung.

"Kebiasaan sehari-hari ini menggandakan risiko serangan jantung anda, dan kebanyakan orang tidak memikirkannya dua kali," kata Sanjay mengutip siaran Hindustan Times pada Minggu (5/4) waktu setempat.

Melalui sebuah unggahan di Instagram pada Rabu (1/4), dia menyampaikan bahwa berdiam diri menjadi salah satu masalah yang banyak diabaikan oleh masyarakat. Masalah seperti diet atau merokok lebih menarik dari hal tersebut.

Padahal kurangnya gerakan fisik menjadi pendorong utama penyakit jantung. Selama lebih 20 tahun dia praktik, Sanjay banyak melihat tidak bergerak dalam waktu yang lama akan memperlambat sirkulasi, meningkatkan gula darah, dan meningkatkan risiko pembekuan darah.

"Itulah bagaimana risiko serangan jantung dan stroke meningkat," kata Sanjay.

Oleh karenanya, dia menekankan bahwa solusinya tidak selalu membutuhkan program latihan di gym yang berat, melainkan melakukan hal sederhana yakni menggerakkan tubuh baik dengan berdiri setiap 30–60 menit, berjalan kaki atau melakukan beberapa squat.

Pengamatan Sanjay didukung oleh data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam lembar fakta tahun 2024, WHO mengidentifikasi kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko utama kematian akibat penyakit tidak menular.

WHO melaporkan bahwa orang dewasa yang tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan memiliki peningkatan risiko kematian 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan mereka yang cukup aktif. Ditambahkan bahwa perilaku sedentari merupakan kontributor langsung terhadap hipertensi dan obesitas, yang keduanya merupakan kondisi 'pintu gerbang' utama untuk gagal jantung.

Lebih lanjut, sebuah studi yang dikutip oleh WHO pada tahun 2022 menyoroti bahwa gaya hidup tidak aktif bertanggung jawab atas sekitar $27 miliar biaya perawatan kesehatan langsung tahunan secara global, karena kurangnya aktivitas fisik menyebabkan peningkatan diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Para ahli medis menjelaskan bahwa duduk terlalu lama menyebabkan 'perlambatan metabolisme'. Ketika tubuh tetap diam, enzim yang memecah lemak (lipid) dalam darah menurun. Menurut laporan kardiovaskular yang mendukung, hubungan antara duduk dan kesehatan jantung sangat jelas: lingkungan modern — yang dirancang untuk meja dan sofa — bertentangan dengan biologi manusia.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026