Logo Header Antaranews Kalteng

Polda Banten bongkar sindikat BBM subsidi dengan modus pelat palsu

Selasa, 5 Mei 2026 18:14 WIB
Image Print
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki (kanan) didampingi Sales Area Manager Retail Banten Pertamina Patra Niaga Agung Kaharesa Wijaya (kiri) menunjukkan barang bukti saat pengungkapan kasus tindak pidana penyalahgunaan BBM dan elpiji bersubsidi di Kantor PUPR Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Selasa (5/5/2026). Polda Banten berhasil mengungkap sebanyak enam kasus tindak pidana penyalahgunaan BBM dan elpiji bersubsidi di wilayah hukum Polda Banten dalam kurun waktu April 2026 dengan menetapkan delapan orang tersangka yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp910 juta. ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/YU

Serang (ANTARA) - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten membongkar praktik penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Bio Solar bermodus pelat nomor polisi (nopol) palsu serta kode batang (barcode) ilegal.

Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, di Serang, Selasa, mengungkapkan bahwa dalam periode April 2026, telah mengungkap kasus tindak pidana penyalahgunaan BBM bersubsidi dengan menetapkan lima orang sebagai tersangka yakni NN alias AK (45), ED (61), AT (50), NM (21) dan RD (41).

"Para pelaku menggunakan modus operandi yang cukup rapi dengan memalsukan pelat nomor kendaraan agar sesuai dengan 'barcode'; (kode batang) yang mereka miliki. Hal ini dilakukan untuk mengelabui petugas SPBU saat melakukan pengisian BBM secara berulang," kata Hengki.

Kapolda menjelaskan para tersangka memodifikasi mobil boks dengan menempatkan tangki penampung atau kempu di dalamnya dengan kapasitas angkut mencapai 2.000 hingga 5.000 liter.

"BBM subsidi ini kemudian dikumpulkan untuk dijual kembali dengan harga nonsubsidi demi keuntungan pribadi," ucapnya.

Sementara itu, Sales Area Manager Retail Banten Pertamina Patra Niaga, Agung Kaharesa Wijaya, menyebutkan total barang bukti yang berhasil disita dalam rangkaian pengungkapan ini mencapai 3.791 liter BBM.

"Sebanyak 3.791 liter BBM yang disalahgunakan ini jumlahnya cukup besar. Apabila dilakukan penyaluran terhadap masyarakat yang berhak, maka akan jauh lebih bermanfaat," ujar Agung.

Berdasarkan temuan di lapangan, praktik ilegal ini diperkirakan menimbulkan kerugian negara mencapai Rp25 juta per hari.

Agung menegaskan Pertamina Patra Niaga mendukung penuh langkah kepolisian dan akan memberikan sanksi tegas hingga pemutusan hubungan kerja jika ditemukan bukti keterlibatan oknum petugas SPBU dalam aktivitas ilegal yang merugikan hak masyarakat tersebut.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Landasan hukum tersebut sebagaimana telah diubah dengan Pasal 40 angka 9 UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi UU, serta jo UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.



Pewarta :
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026