Sampit (Antara Kalteng) - Keinginan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap langsung di mulut tambang batu bara sebagai solusi masalah kelistrikan, disambut positif masyarakat.

"Tentu masyarakat mendukung karena itu tujuannya untuk mengatasi kekurangan daya listrik di daerah kita ini. Tapi bagusnya dijelaskan dulu kepada masyarakat seperti apa rencananya karena masyarakat berhak tahu," kata Yusuf, warga Sampit, Sabtu.

Seperti daerah lainnya di Kalteng, pemadaman listrik sering terjadi di Sampit. Pemadaman mendadak terjadi ketika listrik yang interkoneksi Kalsel dan Kalteng ini mengalami gangguan, baik di kabel tegangan tinggi atau di mesin pembangkit di Kalsel.

Rasyid, warga lainnya juga sependapat dengan wacana pembangunan PLTU berskala besar di Kalteng. Kondisi selama ini cukup ironis karena Kalimantan yang banyak menghasilkan batu bara tapi justru didera krisis listrik.

"Batu bara dikirim ke Jawa untuk menghidupkan PLTU di sana, sementara kita di Kalimantan justru kurang diperhatian dan terus dihadapkan pada masalah listrik," katanya.

Menurut dia, ini aneh dan tidak adil. Jadi lebih baik sekalian membangun PLTU berkapasitas besar di Kalteng, lalu listriknya sebagian dipasok ke Jawa. Penerangan di daerah Kalimantan tetap terpenuhi, ucap Rasyid.

Gubernur Agustin Teras Narang saat menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan Provinsi Kalteng di Palangka Raya dan disiarkan melalui video conference ke seluruh kabupaten/kota pada 30 Maret lalu, mengungkapkan wacana pembangunan PLTU di mulut tambang.

Pada acara yang dihadiri Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Andrinof Chaniago itu Teras tidak menjelaskan secara rinci terkait lokasi rencana pembangunan PLTU tersebut.

Namun orang nomor satu di provinsi yang dijuluki "Bumi Tambun Bungai" itu menyatakan yakin bahwa rencana jangka panjang ini dibahas serius dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.



Kabel bawah laut

Sebagian listrik yang dihasilkan nantinya rencananya akan dialirkan ke pulau Jawa melalui kabel bawah laut. Kabel sepanjang 300 kilometer itu akan membentang antara Kabupaten Sukamara, Kalteng hingga Jepara, Jateng.

Teras tampak bersemangat terhadap rencana ini meski dia akan mengakhiri masa jabatan pada 4 Agustus tahun 2015. Dia yakin jika rencana ini terwujud maka bisa mengatasi masalah kelistrikan di dua pulau sekaligus.

"Kami minta bantuan pemerintah pusat melalui Bappenas mendukung yang kami lakukan. PLTU di mulut tambang ini lebih hemat karena tidak perlu ongkos lagi mengangkut batu baranya ke Jawa," katanya.

Menurut dia, dari sini sudah terlihat berapa besar penghematan yang bisa dilakukan. Nanti kerjasama dengan investro menggunakan sistem build, operation, owner and transfer (BOOT).

Dukungan pemerintah sangat penting dan cukup menentukan apakah rencana ini bisa terlaksana atau tidak. Pasalnya investor membutuhkan jaminan dalam berbagai hal, termasuk terkait risiko politik mengingat ini nantinya ada kaitannya dengan kebijakan.


(T.KR-NJI/B/S019/S019)