Sampit (Antara Kalteng) - Dinas Perikanan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah akan mencoba pola baru dalam mendorong budidaya ikan jelawat yang merupakan ikon daerah ini.

"Kami akan mencoba sistem kluster," kata Kepala Bidang Budidaya Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Indra di Sampit, Senin.

Misalnya, di lokasi ini khusus untuk pembenihan lalu dijual dan mendapat keuntungan, di lokasi lain yang khusus pembesaran hingga usia tiga bulan kemudian dijual dan mendapat untung, kemudian di lokasi lainnya yang khusus pembesaran hingga usia panen. Jadi masing-masing kelompok akan mendapatkan hasil dalam waktu tidak terlalu lama," katanya.

Pola baru yang akan diterapkan itu diharapkan dapat menarik minat masyarakat membudidayakan ikan jelawat. Kendala yang dihadapi selama ini di antaranya, masa panen ikan jelawat yang cukup lama yakni sembilan hingga belasan bulan untuk ukuran besar, membuat sebagian warga memilih membudidayakan ikan jenis lain seperti patin dan nila karena masa panen lebih cepat dan menguntungkan.

Pemerintah daerah terus mencari cara untuk mengajak masyarakat membudidayakan ikan jelawat. Selain menebar puluhan ribu benih jelawat di sungai, berbagai bantuan juga diberikan agar masyarakat makin tertarik membudidayakan ikan air tawar khas Kalimantan ini.

"Kalau mengandalkan hasil dari jelawat memang agak lama. Nanti juga kami dorong dipadukan dengan jenis ikan lain sehingga pemilik keramba bisa dapat hasil cepat dari ikan jenis lain sambil menunggu ikan jelawatnya sampai usia panen," kata Indra.

Potensi perikanan tangkap dan budidaya di Kotawaringin Timur masih sangat besar. Hingga saat ini sebagian kebutuhan ikan di daerah ini dipasok dari luar daerah. Untuk itulah pemerintah daerah terus mendorong masyarakat menangkap peluang tersebut dengan mengembangkan budidaya ikan.

Pengembangan budidaya ikan jelawat menjadi perhatian karena ikan ini merupakan ikon daerah. Selain untuk tujuan ekonomis perikanan, pengembangan jelawat juga membawa dampak positif lainnya seperti mendukung wisata kuliner dengan menu ikan jelawat. Secara tidak langsung, ini mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Sampit sebagai kota tujuan wisata.