Pengembangan perikanan Lamandau terkendala mahalnya pakan
Rabu, 31 Oktober 2018 16:50 WIB
Pembudidaya keramba di DAS Lamandau masih menghadapi kesulitan-kesulitan dalam pengadaan pakan dan benih ikan untuk meningkatkan hasil produksi. (Foto Distakan Lamandau)
Nanga Bulik (Antaranews Kalteng) - Potensi budidaya perikanan perairan umum di Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah, sangat menjanjikan, namun pengembangan peluang ekonomi di sektor ini terkendala oleh mahalnya harga pakan.
"Aabila kendala tersebut dapat diatasi, produksi sumber daya perikanan mampu mencukupi kebutuhan kabupaten ini," kata Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Lamandau, Atang Yudah di Nanga Bulik, Rabu.
Atang menjelaskan, potensi budidaya ikan di daerah berjuluk Bumi Bahaum Bakuba itu masih terbuka lebar. Dia yakin potensi yang ada masih bisa digenjot supaya bisa berproduksi lebih tinggi untuk mencukupi kebutuhan kabupaten terutama budidaya keramba dan kolam.
Mahalnya harga pakan menjadi keluhan warga yang menjalankan usaha keramba ikan. Saat ini harga pakan ikan berkisar Rp250 sampai Rp350 ribu per sak, tergantung merek pakan.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, seperti memproduksi pakan buatan, namun setelah dihitung modal yang dikeluarkan dibanding membeli pakan pabrikan, selisihnya tidak jauh berbeda sehingga pembudidaya lebih memilih membeli.
Selain itu, pembudidaya ikan juga kesulitan dalam penyediaan benih unggul. Produksi benih di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Ikan (BBI) Lamandau, belum mencukupi kebutuhan pembudidaya.
Sementara itu, pada kelompok nelayan tangkap, saat ini pembinaan mereka terkendala dengan rendahnya regenerasi pada profesi tersebut. Hingga saat ini nelayan tangkap masih didominasi oleh orang tua dan pekerjaan nelayan tangkap bukan sebagai pekerjaan utama, tetapi merupakan profesi sambilan.
"Ketersedian benih unggul terbatas, BBI yang ada produksi masih belum cukup, pakan harga masih mahal serta terbatas pilihannya sesuai kebutuhan budidaya dan untuk nelayan tangkap sudah banyak yang tua, jadi terbatas tangkapannya diantara mereka juga banyak menjadikan sambilan bukan pekerjaan utama," tegasnya.
Untuk menyiasati berbagai kendala yang dihadapi, Distakan melakukan beberapa langkah strategis, di antaranya dengan membina beberapa kelompok nelayan, memberi bantuan keramba jaring apung dan pembuatan kolam, serta bantuan benih ikan.
"Meskipun masih dalam jumlah yang terbatas, tetapi sudah ada beberapa kelompok yang behasil, terutama budidaya ikan dalam keramba," timpal Ahmadi.
Pihaknya juga telah mulai mengadakan induk ikan berkualitas untuk mendongkrak produksi benih bagi pembudidaya. Bagi nelayan tangkap diberikan bantuan alat tangkap guna menunjang kegiatan mencari ikan.
"Pembudidaya yang sudah mengetahui sudah membeli benih di BBI, pada prinsipnya masih kami usahakan jalan keluar terbaik, mudah-mudahan anggaran mendukung," tukasnya.
Untuk menjaga populasi sumberdaya perikanan, Distakan juga sudah melakukan tebar benih ikan. Saat ini dalam tahap evaluasi dan hasilnya akan disosialisasikan untuk menganilisa sumber daya perairan di DAS Lamandau.
Ia berharap ada sinergitas program antara desa dan pemerintah daerah melalui Distakan supaya bisa saling menunjang anggaran di bidang perikanan.
"Misalnya, dinas membuatkan keramba, sementara pemerintah desa melalui pembiayaan Dana Desa bisa memberikan dukungan pengadaan benih dan pakan sehingga melalui penyuluh kita bisa memberikan pelatihan dan pembinaan," demikian Atang.
"Aabila kendala tersebut dapat diatasi, produksi sumber daya perikanan mampu mencukupi kebutuhan kabupaten ini," kata Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Lamandau, Atang Yudah di Nanga Bulik, Rabu.
Atang menjelaskan, potensi budidaya ikan di daerah berjuluk Bumi Bahaum Bakuba itu masih terbuka lebar. Dia yakin potensi yang ada masih bisa digenjot supaya bisa berproduksi lebih tinggi untuk mencukupi kebutuhan kabupaten terutama budidaya keramba dan kolam.
Mahalnya harga pakan menjadi keluhan warga yang menjalankan usaha keramba ikan. Saat ini harga pakan ikan berkisar Rp250 sampai Rp350 ribu per sak, tergantung merek pakan.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, seperti memproduksi pakan buatan, namun setelah dihitung modal yang dikeluarkan dibanding membeli pakan pabrikan, selisihnya tidak jauh berbeda sehingga pembudidaya lebih memilih membeli.
Selain itu, pembudidaya ikan juga kesulitan dalam penyediaan benih unggul. Produksi benih di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Ikan (BBI) Lamandau, belum mencukupi kebutuhan pembudidaya.
Sementara itu, pada kelompok nelayan tangkap, saat ini pembinaan mereka terkendala dengan rendahnya regenerasi pada profesi tersebut. Hingga saat ini nelayan tangkap masih didominasi oleh orang tua dan pekerjaan nelayan tangkap bukan sebagai pekerjaan utama, tetapi merupakan profesi sambilan.
"Ketersedian benih unggul terbatas, BBI yang ada produksi masih belum cukup, pakan harga masih mahal serta terbatas pilihannya sesuai kebutuhan budidaya dan untuk nelayan tangkap sudah banyak yang tua, jadi terbatas tangkapannya diantara mereka juga banyak menjadikan sambilan bukan pekerjaan utama," tegasnya.
Untuk menyiasati berbagai kendala yang dihadapi, Distakan melakukan beberapa langkah strategis, di antaranya dengan membina beberapa kelompok nelayan, memberi bantuan keramba jaring apung dan pembuatan kolam, serta bantuan benih ikan.
"Meskipun masih dalam jumlah yang terbatas, tetapi sudah ada beberapa kelompok yang behasil, terutama budidaya ikan dalam keramba," timpal Ahmadi.
Pihaknya juga telah mulai mengadakan induk ikan berkualitas untuk mendongkrak produksi benih bagi pembudidaya. Bagi nelayan tangkap diberikan bantuan alat tangkap guna menunjang kegiatan mencari ikan.
"Pembudidaya yang sudah mengetahui sudah membeli benih di BBI, pada prinsipnya masih kami usahakan jalan keluar terbaik, mudah-mudahan anggaran mendukung," tukasnya.
Untuk menjaga populasi sumberdaya perikanan, Distakan juga sudah melakukan tebar benih ikan. Saat ini dalam tahap evaluasi dan hasilnya akan disosialisasikan untuk menganilisa sumber daya perairan di DAS Lamandau.
Ia berharap ada sinergitas program antara desa dan pemerintah daerah melalui Distakan supaya bisa saling menunjang anggaran di bidang perikanan.
"Misalnya, dinas membuatkan keramba, sementara pemerintah desa melalui pembiayaan Dana Desa bisa memberikan dukungan pengadaan benih dan pakan sehingga melalui penyuluh kita bisa memberikan pelatihan dan pembinaan," demikian Atang.
Pewarta : Koko Sulistyo
Editor : Admin 2
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Kapuas minta dukungan kementerian kembangkan sektor perikanan tangkap
11 January 2026 6:15 WIB
Dislutkan Kalteng hadirkan Buku Pintar, sajikan data akurat hingga inovasi sektor KP
19 December 2025 11:30 WIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan alokasikan satu Kampung Nelayan Merah Putih untuk Kalteng
03 December 2025 8:24 WIB
Terpopuler - Lamandau
Lihat Juga
Posyandu di Belantikan Raya diproyeksikan jadi pusat layanan terpadu berbasis enam SPM
16 January 2026 16:38 WIB
Akademisi: Pengendalian hama terpadu kunci tingkatkan produksi kelapa sawit
31 December 2025 16:42 WIB
Lamandau Exotic Borneo langkah strategis menuju pariwisata nasional hingga internasional
14 December 2025 6:03 WIB
Komitmen dalam pembangunan infrastruktur, Lamandau raih Sutami Award 2025
02 December 2025 15:07 WIB
Lamandau raih predikat Informatif, Bupati ingin keterbukaan informasi merata
26 November 2025 18:16 WIB
Lamandau Festival 2025 gerakkan perekonomian, perputaran uang capai miliaran rupiah
18 November 2025 15:47 WIB