Sebanyak 826 pasutri bercerai akibat pilkada langsung
Jumat, 22 November 2019 14:18 WIB
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo. (Ogen)
Tanjungpinang (ANTARA) - Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menyatakan pelakasanaan pilkada langsung di Indonesia menyebabkan 826 pasangan suami istri (pasutri) bercerai terutama di daerah Jawa.
"Data terakhir itu ada 826 pasutri bercerai gara-gara pilihan berbeda," kata Bamsoet di Tanjungpinang, Kepri, Jumat.
Pilkada langsung juga menimbulkan terjadinya gesekan akar rumput, perpecahan, hingga perang antarsuku dan antarkampung. Bahkan orangtua bertikai dengan anak terjadi akibat pilkada langsung.
Baca juga: Bisa saja pilkada kembali dipilih DPRD, kata Teras Narang
Dampak lainnya dari pilkada langsung yang selama ini dipertahankan, kata dia, ialah sistem demokrasi Indonesia menjadi terjebak dengan angka-angka.
Dikatakannya, dewasa ini anggota DPR dan DPRD yang masuk ke parlemen bukan lagi membawa aspirasi rakyat, tetapi bermain dengan angka-angka.
Begitu pula dengan kepala daerah, seperti gubernur, bupati dan wali kota. Politikus Golkar itu mengaku tidak begitu yakin jika mereka bekerja untuk rakyat setelah terpilih. Karena biaya politik yang tinggi dan tak masuk akal.
Baca juga: Kurangnya blanko KTP-el jelang pilkada Kalteng, bakal dibahas bersama Kemendagri
"Sehingga anggota DPR, DPRD dan kepala daerah akan berpikir bagaimana uang kampanye balik lagi ke kantong pribadi dibanding fokus memikirkan rakyatnya," ucap Bamsoet.
Maka itu, lanjut dia, saat ini MPR tengah mengevaluasi pilkada langsung untuk melihat apakah lebih banyak manfaat atau mudarat-nya.
"Kalau memang lebih banyak mudaratnya, maka perlu dievaluasi secara serius melalui Undang-Undang pemilu," tutur Bamsoet.
Pihaknya juga menyarankan ke depan pilkada melalui DPRD guna menekan gesekan dan kasus korupsi kepala daerah.
Baca juga: Golkar ingin menangi Pilkada Kalteng dan Kotim
Baca juga: Pilkada Kalteng di Gumas harus bebas dari provokasi dan hoax
Baca juga: Legislator Kotim serukan masyarakat jaga keamanan jelang pilkada
"Data terakhir itu ada 826 pasutri bercerai gara-gara pilihan berbeda," kata Bamsoet di Tanjungpinang, Kepri, Jumat.
Pilkada langsung juga menimbulkan terjadinya gesekan akar rumput, perpecahan, hingga perang antarsuku dan antarkampung. Bahkan orangtua bertikai dengan anak terjadi akibat pilkada langsung.
Baca juga: Bisa saja pilkada kembali dipilih DPRD, kata Teras Narang
Dampak lainnya dari pilkada langsung yang selama ini dipertahankan, kata dia, ialah sistem demokrasi Indonesia menjadi terjebak dengan angka-angka.
Dikatakannya, dewasa ini anggota DPR dan DPRD yang masuk ke parlemen bukan lagi membawa aspirasi rakyat, tetapi bermain dengan angka-angka.
Begitu pula dengan kepala daerah, seperti gubernur, bupati dan wali kota. Politikus Golkar itu mengaku tidak begitu yakin jika mereka bekerja untuk rakyat setelah terpilih. Karena biaya politik yang tinggi dan tak masuk akal.
Baca juga: Kurangnya blanko KTP-el jelang pilkada Kalteng, bakal dibahas bersama Kemendagri
"Sehingga anggota DPR, DPRD dan kepala daerah akan berpikir bagaimana uang kampanye balik lagi ke kantong pribadi dibanding fokus memikirkan rakyatnya," ucap Bamsoet.
Maka itu, lanjut dia, saat ini MPR tengah mengevaluasi pilkada langsung untuk melihat apakah lebih banyak manfaat atau mudarat-nya.
"Kalau memang lebih banyak mudaratnya, maka perlu dievaluasi secara serius melalui Undang-Undang pemilu," tutur Bamsoet.
Pihaknya juga menyarankan ke depan pilkada melalui DPRD guna menekan gesekan dan kasus korupsi kepala daerah.
Baca juga: Golkar ingin menangi Pilkada Kalteng dan Kotim
Baca juga: Pilkada Kalteng di Gumas harus bebas dari provokasi dan hoax
Baca juga: Legislator Kotim serukan masyarakat jaga keamanan jelang pilkada
Pewarta : Ogen
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Muzani ungkap Megawati-Prabowo sepakat tarif AS momentum kebangkitan produk nasional
09 April 2025 20:15 WIB
Tetap bangun sukacita ditengah pilihan berbeda dalam Pilkada, kata Teras Narang
27 November 2024 17:37 WIB, 2024
Pelajar SMAN 1 Pulpis antusias ikuti dialog nilai kebangsaan Teras Narang
25 November 2024 14:50 WIB, 2024
Teras Narang beri perhatian terhadap pembentukan otonomi daerah desa dan tenaga honorer
04 November 2024 14:16 WIB, 2024
Jangan takut, perempuan korban kekerasan seksual harus berani lapor
01 November 2024 21:43 WIB, 2024