Manggala Agni Muara Teweh buat desinfektan herbal dari bambu
Selasa, 7 April 2020 7:00 WIB
Proses pengolahan cairan cuka kayu untuk desinfektan herbal berbahan baku pohon bambu di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/HO-Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh
Muara Teweh (ANTARA) - Kantor Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah membuat bahan desinfektan herbal yang berasal dari pohon bambu untuk mengganti bahan dari cairan kimia guna mengantisipasi penyebaran virus Corona atau COVID-19.
"Desinfektan ramah lingkungan yang diberi nama cairan cuka kayu ini aman bagi manusia dan lainnya, apalagi bahan bakunya banyak tumbuh di daerah ini," kata Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh Andreas Ero ketika ditemui saat melakukan pengolahan desinfektan di kantornya, Minggu.
Menurut dia, dalam pengolahan desinfektan herbal ini pihaknya bekerja sama dengan Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas selaku pembimbing praktek pembuatan desinfektan cairan cuka kayu berbahan baku bambu.
Proses pembuatan cuka kayu ini, kata dia, tergolong mudah karena bahannya banyak tumbuh di sekitar Kantor Daops Manggala Agni Muara Teweh.
Proses pengolahan cairan cuka kayu untuk desinfektan herbal berbahan baku pohon bambu di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/HO-Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh
"Diharapkan nantinya hasil pembuatan cuka kayu ini dapat dipergunakan untuk upaya pencegahan dengan melakukan penyemprotan desinfektan pada sarana prasarana gedung, kantor fasilitas publik dan tempat masyarakat lainnya, serta dengan menerapkan budaya hidup bersih, dan menjaga lingkungan sekitar," kata Andreas.
Sementara Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas Aswaludin menjelaskan pembuatan desinfektan berbahan herbal ini berdasarkan dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berhasil memproduksi desinfektan dari cuka kayu dan bambu (asap cair) sebagai antisipasi penyebaran COVID-19.
Berdasarkan hal tersebut, Kementerian LHK melalui Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan melakukan pengolahan desinfektan herbal ini awalnya di Daops Kapuas.
"Setelah berhasil, kami melakukan pelatihan kepada petugas Manggala Agni Muara Teweh ini untuk membuat cairan cuka kayu ini," kata dia.
Dia mengatakan, dari hasil Penelitian dan Pengembangan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) ini juga diproduksi hand sanitizer dengan formula asap cair (cuka kayu)
Hasil pengujian asap cair kayu dan bambu terhadap kuman dari eksperimen yang dilakukan, cukup hanya dengan 1 persen cuka kayu sudah efektif dilakukan Prof Gustan Pari peneliti P3HH BLI, beberapa waktu lalu.
Pengujian dilakukan Prof Gustan dilakukan bersama Ratih Damayanti dan tim yakni dengan menguji toksisitas asap cair kayu dan bambu sebagai desinfektan, Riset ini menggunakan mikroorganisme bakteri yang terdapat pada telapak tangan dan udara di Laboratorium Mikrobiologi Hutan-Pusat Litbang Hutan, Bogor.
Hasilnya, asap cair kayu dan bambu dengan konsentrasi 1 persen memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme dibandingkan etanol (alkohol) 70 persen, yang selama ini sering dijadikan bahan dasar desinfektan.
Seorang petugas mencium cairan cuka kayu dalam botol air mineral yang siapkan dicampurkan dengan air untuk desinfektan herbal di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/Kasriadi
"Kita harapkan melalui desinfektan herbal ini selain membasmi virus bakteri di sekeliling kita maupun penyakit dari tanaman," ujarnya.
Proses pengolahan cairan cuka kayu itu menggunakan tungku yang atasnya diletakan drum sebagai tempat mengolah bambu yang dipotong kecil-kecil yang dibakar selama delapan jam, kemudian proses pembakaran yang apinya selalu dijaga agar tetap menyala ini mengeluarkan asap yang keluar dari potongan bambu ukuran sekitar empat meter lebih.
Setelah proses pembakaran berjalan pada menit ke-47 pertama sudah menghasilkan cairan cuka kayu yang keluar dari selang plastik kecil sekitar 1,5 liter kemudian ditampung ke dalam botol misalnya botol air mineral.Awalnya cairan itu berwarna kuning kecoklatan dan proses terus berjalan hingga cairan terlihat semakin gelap dan pekat.Namun semua cairan itu tetap bermanfaat.
"Proses pengolahan selama delapan jam itu dapat menghasilkan cairan cuka kayu sebanyak 12 liter.Untuk bahan desinfektan dengan ukuran air sebanyak 10 liter cukup dicampur cairan cuka kayu sekitar 100 mililiter.Jadi kalau kita menggunakan alat penyemprot hama jenis Solo yang berkafasitas 15 liter cukup dicampur dengan cairan cuka air 150 ml," jelas Aswaludin.
"Desinfektan ramah lingkungan yang diberi nama cairan cuka kayu ini aman bagi manusia dan lainnya, apalagi bahan bakunya banyak tumbuh di daerah ini," kata Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh Andreas Ero ketika ditemui saat melakukan pengolahan desinfektan di kantornya, Minggu.
Menurut dia, dalam pengolahan desinfektan herbal ini pihaknya bekerja sama dengan Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas selaku pembimbing praktek pembuatan desinfektan cairan cuka kayu berbahan baku bambu.
Proses pembuatan cuka kayu ini, kata dia, tergolong mudah karena bahannya banyak tumbuh di sekitar Kantor Daops Manggala Agni Muara Teweh.
Proses pengolahan cairan cuka kayu untuk desinfektan herbal berbahan baku pohon bambu di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/HO-Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh
"Diharapkan nantinya hasil pembuatan cuka kayu ini dapat dipergunakan untuk upaya pencegahan dengan melakukan penyemprotan desinfektan pada sarana prasarana gedung, kantor fasilitas publik dan tempat masyarakat lainnya, serta dengan menerapkan budaya hidup bersih, dan menjaga lingkungan sekitar," kata Andreas.
Sementara Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas Aswaludin menjelaskan pembuatan desinfektan berbahan herbal ini berdasarkan dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berhasil memproduksi desinfektan dari cuka kayu dan bambu (asap cair) sebagai antisipasi penyebaran COVID-19.
Berdasarkan hal tersebut, Kementerian LHK melalui Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan melakukan pengolahan desinfektan herbal ini awalnya di Daops Kapuas.
"Setelah berhasil, kami melakukan pelatihan kepada petugas Manggala Agni Muara Teweh ini untuk membuat cairan cuka kayu ini," kata dia.
Dia mengatakan, dari hasil Penelitian dan Pengembangan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) ini juga diproduksi hand sanitizer dengan formula asap cair (cuka kayu)
Hasil pengujian asap cair kayu dan bambu terhadap kuman dari eksperimen yang dilakukan, cukup hanya dengan 1 persen cuka kayu sudah efektif dilakukan Prof Gustan Pari peneliti P3HH BLI, beberapa waktu lalu.
Pengujian dilakukan Prof Gustan dilakukan bersama Ratih Damayanti dan tim yakni dengan menguji toksisitas asap cair kayu dan bambu sebagai desinfektan, Riset ini menggunakan mikroorganisme bakteri yang terdapat pada telapak tangan dan udara di Laboratorium Mikrobiologi Hutan-Pusat Litbang Hutan, Bogor.
Hasilnya, asap cair kayu dan bambu dengan konsentrasi 1 persen memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme dibandingkan etanol (alkohol) 70 persen, yang selama ini sering dijadikan bahan dasar desinfektan.
Seorang petugas mencium cairan cuka kayu dalam botol air mineral yang siapkan dicampurkan dengan air untuk desinfektan herbal di Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Minggu (5/4/2020).ANTARA/Kasriadi
"Kita harapkan melalui desinfektan herbal ini selain membasmi virus bakteri di sekeliling kita maupun penyakit dari tanaman," ujarnya.
Proses pengolahan cairan cuka kayu itu menggunakan tungku yang atasnya diletakan drum sebagai tempat mengolah bambu yang dipotong kecil-kecil yang dibakar selama delapan jam, kemudian proses pembakaran yang apinya selalu dijaga agar tetap menyala ini mengeluarkan asap yang keluar dari potongan bambu ukuran sekitar empat meter lebih.
Setelah proses pembakaran berjalan pada menit ke-47 pertama sudah menghasilkan cairan cuka kayu yang keluar dari selang plastik kecil sekitar 1,5 liter kemudian ditampung ke dalam botol misalnya botol air mineral.Awalnya cairan itu berwarna kuning kecoklatan dan proses terus berjalan hingga cairan terlihat semakin gelap dan pekat.Namun semua cairan itu tetap bermanfaat.
"Proses pengolahan selama delapan jam itu dapat menghasilkan cairan cuka kayu sebanyak 12 liter.Untuk bahan desinfektan dengan ukuran air sebanyak 10 liter cukup dicampur cairan cuka kayu sekitar 100 mililiter.Jadi kalau kita menggunakan alat penyemprot hama jenis Solo yang berkafasitas 15 liter cukup dicampur dengan cairan cuka air 150 ml," jelas Aswaludin.
Pewarta : Kasriadi
Editor : Admin 1
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jalan di samping Jembatan Sei Tewei menuju Manggala akan diperlebar tahun ini
19 January 2026 6:14 WIB
Kesiapan anggaran dan peralatan Manggala Agni tanggulangi karhutla di Kalteng diapresiasi
17 October 2023 15:08 WIB, 2023
Kesehatan puluhan anggota Manggala Agni Kapuas diperiksa persiapan hadapi karhutla
08 June 2023 7:14 WIB, 2023
Terpopuler - Barito Utara
Lihat Juga
Pemkab Barut adakan pelatihan teknologi digital untuk tingkatkan daya saing UMK
06 February 2026 18:45 WIB
Dukung layanan kesehatan, Ketua PKK Barut kunjungi Posyandu Balita Benangin II
06 February 2026 16:16 WIB
Wabup Barut: Musrenbang sebagai momentum penentuan arah pembangunan daerah
06 February 2026 10:18 WIB
Bupati Barut: Musrenbang untuk selaraskan usulan dukung pembangunan melalui Asta Cita
05 February 2026 18:52 WIB
Bunda PAUD Barut beri motivasi para pendidik tingkatkan kualitas pembelajaran
05 February 2026 10:11 WIB
Sinergi perusahaan dan yayasan berbagi di Panti Asuhan Khoirunnas Muara Teweh
05 February 2026 10:07 WIB