Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menetapkan status tanggap darurat banjir terhitung dari tanggal 24 Februari sampai 7 Maret 2024.

“Kami bersama BPBD dan instansi terkait sepakat menaikkan status menjadi tanggap darurat banjir selama 14 hari,” kata Wakil Bupati Kotim, Irawati di Sampit, Jumat. 

Hal tersebut ia sampaikan usai rapat koordinasi penetapan status tanggap darurat bencana banjir melibatkan TNI, Polri, BMKG, Inspektorat, Basarnas, Dinas Sosial, Disdamkarmat, dan lainnya. 

Sudah enam hari banjir melanda wilayah utara Kotim akibat terus diguyur hujan deras dan adanya kiriman air dari wilayah hulu. Banjir yang terus meluas membuat semua pihak pihaknya sepakat menaikkan status Kotim dari siaga menjadi tanggap darurat banjir. 

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim banjir yang sebelumnya melanda 9 desa saat ini meluas hingga total ada 14 desa di 3 kecamatan yang terendam banjir, yakni Kecamatan Cempaga, Cempaga Hulu, dan Kecamatan Tualan Hulu. 

Ketinggian banjir bervariasi kisaran 20-90 cm, namun rata-rata banjir sudah masuk hingga ke rumah-rumah warga yang sebagian besarnya merupakan rumah panggung. 

“Dengan penetapan status tanggap darurat ini kita ingin agar penanganan warga yang terdampak banjir bisa lebih maksimal,” ucapnya. 

Baca juga: Pemkab Kotim kaji rencana pembangunan tempat penampungan jompo

Selain luasan banjir yang terus bertambah ada beberapa faktor lain yang melandasi peningkatan status di Kotim. Prakiraan BMKG bahwa selama 10 hari ke depan masih berpotensi hujan ringan hingga sedang dan terputusnya akses jalan masuk ke beberapa desa. 

Irawati melanjutkan, penetapan status tanggap darurat banjir ini bersifat fleksibel. Apabila, di tengah masa tanggap darurat banjir debit air sudah surut dan intensitas hujan tidak lagi tinggi, maka status bisa langsung dialihkan ke masa transisi pemulihan. 

“Kita doakan saja, mudah-mudahan tidak terjadi lagi hujan dengan intensitas tinggi, sehingga tidak lagi banjir di Kotim,” ajaknya. 

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam menambahkan banjir mengakibatkan sejumlah akses menuju desa terputus, sehingga aktivitas warga terdampak juga lumpuh total. 

Salah satunya Desa Tanjung Jorong, Kecamatan Tualan Hulu yang berpotensi terisolir akibat banjir. Sedangkan, Puskesmas terdekat di wilayah tersebut berada di ibukota kecamatan, yaitu Desa Merah. 

“Desa Tanjung Jorong ini salah satu atensi kita dalam penetapan status, karena akses menuju desa itu tidak bisa dilintasi kendaraan, dikhawatirkan ada warga yang membutuhkan penanganan medis, misalnya melahirkan,” ujarnya. 

Pihaknya akan terus memantau kondisi banjir di lapangan dan berkoordinasi dengan BMKG terkait perkembangan cuaca harian, serta menyalurkan bantuan berupa sembako bagi warga korban banjir. 

Baca juga: BMKG Kotim memprakirakan hujan lebat selama beberapa hari

Baca juga: Pemkab Kotim salurkan bantuan untuk warga terdampak banjir

Baca juga: Umat Islam di Kotim diajak memaknai dan mengimplementasikan nilai-nilai Isra Mikraj


Pewarta : Devita Maulina
Uploader : Admin 2
Copyright © ANTARA 2024