Sampit (ANTARA) - Curah hujan tinggi berbarengan dengan air pasang dari Sungai Mentaya menyebabkan SMAN 1 Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah terendam banjir selama hampir dua pekan terakhir.

“Kondisi ini sudah terjadi sejak 14 September kemarin dan sampai sekarang sekolah kami masih dilanda musibah banjir, namun demikian kegiatan belajar mengajar masih berjalan normal,” kata Kepala SMAN 1 MHS Faturrahman di MHS, Kamis.

Ketinggian air banjir yang merendam sekolah tersebut berkisar 10-50 centimeter dari permukaan tanah. Banjir tidak hanya merendam bagian luar sekolah, tetapi juga masuk ke sejumlah ruangan.

Faturrahman menyebutkan, banjir musiman yang terjadi di wilayah ini memang sering terjadi, terutama ketika ada hujan dengan intensitas tinggi disertai air pasang Sungai Mentaya yang berada tak jauh dari sekolah.

Menurutnya, dulu banjir yang sampai ke sekolah tersebut tergolong jarang, beberapa tahun sekali baru ada banjir. Namun, belakangan banjir menjadi agenda tahunan yang melanda SMAN 1 MHS.

“Kalau dulu mungkin tujuh tahun sekali baru ada banjir, tapi sekarang setahun bisa tiga kali banjir. Tahun ini saja kami sudah merasakan banjir dua kali,” sebutnya.

Ia menduga, kondisi ini terjadi lantaran adanya sumbatan pada anak Sungai Mentaya yang berada di depan sekolah, sehingga air yang menggenang lambat surut. 

Meski begitu, proses belajar mengajar tetap dilaksanakan di sekolah dengan beberapa penyesuaian, contohnya pelajar tidak perlu mengenakan sepatu ke sekolah agar tidak basah, sebagai gantinya pelajar diperbolehkan mengenakan sandal.

Baca juga: Ketua Lentera Kartini turut wakili Indonesia di Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional

Pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah mengenai kondisi terkini, serta tetap mengedepankan keamanan dan keselamatan pelajar di sekolah.

“Kami berharap banjir cepat surut, agar aktivitas belajar mengajar bisa kembali dalam kondisi yang normal dan pelajar pun bisa lebih nyaman saat beraktivitas di sekolah,” pungkasnya.

Terpisah, sebelumnya Kepala Disdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari sejumlah sekolah tingkat SLTA di wilayah Kalimantan Tengah yang terdampak banjir.

“Kami juga sudah membuat surat edaran ke sekolah-sekolah berdasarkan peringatan dini dari BMKG terkait cuaca ekstrem, sehingga sekolah diminta untuk menyiapkan kondisi sekolah masing-masing,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam kondisi kebencanaan pihak sekolah diperkenankan mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum melapor ke Disdik guna meminimalkan dampak buruk dari suatu bencana, termasuk dalam situasi banjir seperti saat ini.

Terlebih, menurutnya pihak sekolah tentu lebih mengetahui situasi dan kondisi di lapangan dibandingkan dirinya mungkin tidak bisa memantau langsung ke lokasi karena kendala jarak, sehingga pihak sekolah bisa memutuskan langkah yang lebih baik dalam mengantisipasi dampak banjir tersebut.

“Tentunya keamanan dan keselamatan pelajar tetap menjadi yang utama, tetapi terkait pembelajaran tetap kita upayakan. Kalau tidak bisa secara tatap muka, maka bisa secara virtual, pokoknya pembelajaran tidak boleh tertunda atau terhambat, tetapi metodenya bisa kita sesuaikan,” demikian Reza.

Baca juga: Pemkab Kotim giatkan Gemarikan lewat lomba masak serba ikan

Baca juga: Wabup Kotim ingatkan pegawai BNNK harus bisa jaga kerahasiaan

Baca juga: Bunda PAUD Kotim ajak masyarakat dukung program wajib belajar 13 tahun