Palangka Raya (ANTARA) - Seorang guru dari SDN 2 Petuk Bukit, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah Qasim Al Qusyairi mengharumkan nama daerah setelah meraih predikat tiga finalis terbaik tingkat nasional pada ajang “Insan Pendidikan Berdampak 2026”.
Penghargaan kategori Inovator Pendidikan Formal ini diselenggarakan platform GuruInovatif.id dan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi dunia pendidikan.
“Inovasi yang diangkat bertajuk HUMA ITAH, lahir dari kegelisahan terhadap kondisi sekolah di wilayah pinggiran yang sempat memiliki rapor pendidikan berwarna merah selama bertahun-tahun akibat keterbatasan fasilitas dan tenaga pendidik,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Palangka Raya Aprae Vico Ranan, Sabtu.
Dalam ajang tersebut, Qasim berhasil menyisihkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia mulai dari jenjang TK hingga SMA, dalam puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Adapun salah satu pilar utama inovasi tersebut adalah aplikasi SI DIKI (Sistem Informasi Digital Keren dan Kreatif), yakni platform berbasis Android yang telah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Aplikasi ini dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan buku paket dengan menyediakan akses sumber belajar digital gratis bagi siswa di daerah pelosok.
Menurut dia, penerapan inovasi tersebut mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan di sekolah, ditandai perubahan rapor pendidikan dari sebelumnya kategori merah menjadi hijau. Selain itu, berbagai prestasi siswa mulai bermunculan dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
“Inovasi tersebut juga mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang bersih dan nyaman melalui gerakan positif harian seperti GASPOL 10 dan Jumat Barasih,” ucap Vico.
Baca juga: Disdik Kotim petakan ulang sebaran SMP
Di tempat yang berbeda Qasim Al Qusyairi menambahkan, keberhasilan tersebut menjadi bukti keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berinovasi dalam dunia pendidikan.
“Pendidikan adalah tentang menyalakan lilin, bukan sekadar meratapi kegelapan. Jarak geografis dan keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi yang berpusat pada siswa,” ungkapnya.
Prestasi tersebut diharap menjadi inspirasi bagi insan pendidikan di Kalteng untuk terus berinovasi, sehingga sekolah-sekolah di wilayah pelosok mampu bersaing di tingkat nasional dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Disdik Kalteng mantapkan penyusunan kalender pendidikan dan SPMB 2026/2027
Baca juga: Disdik Palangka Raya ingatkan pelajar jauhi balap liar
Baca juga: BKPSDM Palangka Raya gelar konseling feedback untuk tingkatkan kinerja ASN