Logo Header Antaranews Kalteng

Kerajinan Miniatur Rumah Dayak Koleksi Kantor Wapres

Senin, 6 Mei 2013 20:01 WIB
Image Print
Ilustrasi, Kerajinan Kalteng Perahu (Jukung) yang terbuat dari getah nyatu (Istimewa)

Muara Teweh, 6/5 (Antara) - Kerajinan miniatur `Betang` yang merupakan rumah adat suku Dayak pesisir di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, menjadi koleksi kantor Wakil Presiden Boediono di Jakarta

"Miniatur Betang itu menjadi perhatian wapres, saat mengunjungi stand Barito Utara pada pekan Budaya Dayak di Jakarta pekan lalu," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Barito Utara Masdulhaq di Muara Teweh, Senin.

Menurut Masdulhaq, kerajinan itu diserahkan langsung oleh dirinya kepada staf khusus Wakil Presiden saat pesta pekan budaya Dayak yang digelar di Istora Senayan Jakarta belum lama ini.

Miniatur Betang yang berukuran 60 x 80 cm dengan tinggi 70 cm terbuat dari kulit kayu baik atap dan dinding dengan tiang tongkat rumah dibuat tinggi itu menjadi perhatian Boediono dengan menanyakan langsung proses pembuatan kerajinan tersebut.

"Saat kunjungan Wapres Boediono ke stand pemeran Barito Utara yang ditanyakan adalah proses pembuatan serta makna dari rumah tersebut, yang pada saat itu didampingi Gubernur Kalteng A Teras Narang yang ikut memberi penjelasan mengenai bentuk bangunan rumah adat Dayak pesisir itu," kata Masdulhaq.

Dia menjelaskan, sebagai warga Dayak, dia sangat bersyukur ada seniman yang mampu membuat sebuah produk kebanggaan yang dapat dikomersialkan menjadi sebuah souvenir, sebagai ciri khas Barito Utara di tingkat nasional.

Sebenarnya masih banyak miniatur karya seniman yang diciptakan warga Desa Bintang Ninggi tersebut, selain miniatur rumah adat Dayak pesisir, ada juga rumah adat dayak daratan, rumah Betang dan balai basarah serta arena acara wara atau tiwah.

"Kita dari pemerintah akan berupaya melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap para seniman kita salah satu cara selalu mengikut sertakan karya mereka dalam acara pameran di berbagai daerah ditanah air guna memperkenalkan produk-produk tersebut," katanya.

Pihaknya berkomitmen melakukan pembinaan terhadap para seniman dan pengrajin baik di wilayah Kecamatan Teweh Tengah, Teweh Timur dan Gunung Purei yang merupakan pengrajin anyaman rotan jenis rambat, tas, topi dan lain sebagainya.

"Kami saat ini fokus mempersiapkan para seniman dan pengrajin dalam menghadapi Kalteng Expo yang dilaksanakan di Palangka Raya," ujar dia.

Sementara itu perajin miniatur Betang dari Desa Bintang Ninggi II Kecamatan Teweh Selatan, Edi Supianto, mengatakan, dirinya merasa bersyukur karya seni yang diproduksinya bisa masuk menjadi pajangan di Kantor Wapres,

"Saya membuat miniatur tersebut hanya untuk meneruskan budaya yang seakan tergerus oleh zaman, maka dari itu pembuatannya untuk menginpirasi generasi muda kita, agar seniman jangan dilupakan termasuk adat-istiadat dan budaya masyarakat kita sebagai orang Dayak, walaupun kita berbeda agama," kata Edi.

Filosofi rumah Betang itulah yang menginspirasi pembuatan berbagai miniatur ciri khas kehidupan Dayak. Sebab didalam rumah betang yang memiliki nilai historis keanekaragaman suku, ras didalamnya yang menggambarkan bentuk Bhineka Tunggal Ika.

Kendala yang dihadapi saat ini adalah masih kurangnya peminat seniman didaerah ini, karena menjadikan produk bernilai tinggi tentu diperlukan sebuah ketelitian, maka dari itu diharapkan akan muncul seniman-seniman yang dapat bekerjasama dalam upaya memunculkan produk lokal.

"Saya berniat membentuk sebuah komunitas seniman yang akan menciftakan produk-produk unggulan daerah sehingga Barito Utara ini bisa dikenang/dikenal oleh daerah lain berkat karya seniman," katanya.

(T.K009/B/H-KWR/H-KWR)



Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026