Logo Header Antaranews Kalteng

Upacara Mamapas Lewu Dikemas Jadi Agenda Pariwisata

Kamis, 6 November 2014 06:37 WIB
Image Print
Ratusan warga, termasuk para pejabat di Kabupaten Kotawaringin Timur menghadiri puncak upacara mapakanan sahur dan mamapas lewu yang dilaksanakan di Taman Miniatur Budaya di Jalan Pramuka Sampit, Rabu (5/11)(FOTO ANTARA Kalteng/Norjani)
. . .Upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur kami,"

Sampit (Antara Kalteng) - Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menggelar upacara adat "Mapakanan Sahur" dan "Mamapas Lewu" yang kini dikemas menarik untuk agenda pariwisata daerah.

"Kami sama-sama berdoa agar Kotawaringin Timur terhindar dari berbagai bala bencana. Upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur kami," kata Ketua Panitia Dewin Marang di Sampit, Kamis.

Upacara adat ini dilaksanakan Rabu (5/11) siang di Taman Miniatur Budaya di Jalan Pramuka sekitar Bundaran Jalan Sudirman. Ratusan masyarakat dari berbagai kalangan hadir, termasuk undangan dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kotim.

Upacara adat itu merupakan bagian dari ritual, yang kini sudah dikemas untuk sajian pariwisata. Namun hal ini tidak menghilangkan makna upacara ritual tahunan ini.

Dewin yang juga Wakil Ketua DPRD Kotawaringin Timur mengatakan bahwa upacara adat ini dikemas sedemikian rupa untuk menarik minat wisatawan lokal hingga manca negara. "Ini sekaligus untuk mendukung program pemerintah menjadikan Sampit sebagai kota tujuan wisata," ujarnya.

Tujuan lainnya, katanya, yakni memasyarakatkan ritual dan budaya, baik dalam hal nuansa religius maupun mengakomodasi kreativitas. Saat ini ada kecenderungan generasi muda kurang memahami dan mencintai budaya lokal sehingga harus kembali diberi pemahaman yang benar.

"Kami harus menggugah semua orang bahwa penting untuk mempertahankan budaya kita ini," kata Dewin Marang yang juga Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kotim.

Sementara itu, Asisten Bupati Bidang Pemerintahan Sugian Noor mengatakan upacara adat ini harus tetap dipertahankan. Selain kini digarap sebagai event budaya dan pariwisata, mapakanan sahur dan mamapas lewu ini mempunyai makna penting untuk mendoakan daerah kita agar aman dan damai.

"Pemerintah daerah akan selalu memberi ruang dan anggaran untuk kegiatan keagamaan, seni dan budaya. Ini semua harus kita pertahankan dan kembangkan tanpa menghilangkan maknanya," ucap Sugian Noor.

Mapakanan Sahur dan Mamapas Lewu dilaksanakan selama dua hari yang diawali dengan berbagai ritual dipimpin oleh pemuka agama Hindu Kaharingan yakni basyir dan pisur. Setelah ritual selesai, acara dilanjutkan dengan seremonial yang dikemas untuk kepentingan pariwisata.

Usai ritual dengan diiringi tari manasai, rombongan akan berkeliling kota untuk melakukan tapung tawar dengan makna doa menghindarkan daerah ini dari berbagai bencana. Upacara ditutup dengan melarung berbagai benda ke sungai Mentaya.


(T.KR-NJI/B/F002/F002)



Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026