Logo Header Antaranews Kalteng

Kemarau Di Kotim Satu Bulan Lebih Cepat

Jumat, 17 Februari 2017 16:41 WIB
Image Print
Kepala BMKG Stasiun Haji Asan Sampit, Nur Setiawan (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antara Kalteng) - Musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah diprediksi akan tiba satu bulan lebih cepat dibanding kemarau tahun lalu sehingga perlu diwaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan di daerah tersebut.

"Itu hasil sementara rapat di Jakarta tentang evaluasi prakiraan awal musim kemarau 2107, dikompilasi dengan prakiraan awal musim kemarau 2017 dari provinsi lain," kata Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Haji Asan Sampit Nur Setiawan di Sampit, Jumat.

Informasi itu juga disampaikan Nur Setiawan dalam paparannya saat rapat koordinasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan Kotawaringin Timur di kantor Sekretariat Daerah pada Kamis (16/2) siang. Harapannya agar menjadi bahan telaahan bersama dalam mewaspadai kebakaran hutan dan lahan.

Saat ini curah hujan di Kotawaringin Timur berkurang namun masih ada potensi hujan ringan hingga sedang. Namun mengingat tanah gambut yang cukup luas membuat potensi kebakaran cukup tinggi karena gambut sangat mudah kering dan terbakar saat kemarau.

Seperti dua pekan terakhir, titik panas bermunculan dan kebakaran lahan mulai terjadi padahal hujan tidak turun hanya lima hari. Selama Februari ini titik panas di Kotawaringin Timur terbanyak di Kecamatan Antang Kalang yakni empat titik.

Kawasan Selatan diperkirakan akan mengalami kemarau lebih awal dibanding kawasan lainnya. Curah hujan di kawasan Utara juga mulai berkurang namun diprediksi masih aman.

"Kemarau di kawasan Selatan diperkirakan terjadi minggu ke tiga Juni, sedangkan kawasan lainnya kemarau awal Juli. Kategori kemarau itu kalau curah hujan kurang dari 60 milimeter dalam 30 hari," kata Nur Setiawan.

Meski kemarau di Kotawaringin Timur terjadi minggu ke tiga Juni, namun kewaspadaan sudah harus ditingkatkan mulai awal Juni. Lahan yang kering akan mudah terbakar sehingga harus diwaspadai.

Nur Setiawan menambahkan, beberapa hari terakhir kualitas udara di Sampit menurun. Kondisi ini diduga dampak kebakaran lahan yang sempat terjadi beberapa hari lalu. Untungnya hujan deras terjadi beberapa kali sepanjang Kamis pagi hingga malam.



Pewarta :
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026