
Asa Gunandi, ingin sukses berkebun lombok dan terong

Tamiang Layang (Antaranews Kalteng) - Gunandi, kakek berusia 67 tahun itu memiliki semangat luar biasa untuk berkebun lombok dan terong di kampungnya di Kelurahan Mangkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
"Kita sebenarnya bisa berkebun. Tapi, kalau air Sungai Barito ini naik, lahan kita tenggelam hingga 125 centimeter dengan waktu hingga berminggu-minggu dan ini membuat tanaman kita mati semua," kata Gunandi, Selasa.
Semangat berkebun menghampiri Gunandi dan warga setempat hingga disepakati membuat kelompok tani dengan nama Suka Maju. Gunandi pun disekapati dan dipilih warga menjadi ketua dan membawahi 20 warganya sebagai anggota.
Seiring waktu berjalan, Gunandi dan anggota pun rapat bersama hingga memutuskan untuk kembali berkebun lombok dan terong dengan metode polibek agar bisa dipindah-pindah. Ini dimaksudkan, jika terjadi banjir akibat luapan Sungai Barito, maka tanaman bisa dipindahkan ke tempat lebih tinggi.
Apa yang diprogramkan memang terlihat mudah, simpel dan memiliki potensi berhasil yang tinggi.
Namun baru akan memulai menghadang kendala besar, yakni dana. Maklum, warga di sana memiliki profesi sebagai pencari ikan sungai, sehingga berkebun dengan polibek masih sesuatu hal yang baru dan hitungan modal dananya ternyata besar.
Selagi mencari solusi modal berkebun ini, untungnya mendengar informasi ada program Coorporate Social Responbility (CSR) dari PT Adaro Indonesia. Harapan Gunandi dan kawan-kawan pun muncul dan bangkit keyakinan untuk bisa bercocok tanam kembali.
Proposal bantuan pun dimasukkan dengan asa (harapan) bisa terwujud.
"Alhamdulillah dibantu Rp25 juta. Kami jadi terus bersememangat. Dengan dana sebesar itu, kami kelompok tani membeli 1000 kantong polibek, bibit terong dan lombok serta keperluan lain dan masih ada sisa Rp500 ribu," katanya.
Modal dana sudah terwujud, kini Gunandi dan kelompok taninya mulai merealisasikan mimpinya.
Ayam berkokok, menjadi rutinitas keriput tangan Gunandi bersama warga pun beraktivitas berkebun dengan cara polibek. Satu polibek diisi tanah yang sudah dicampur rata dengan popok kompos. Sebagian warga melakukan pembibitan atau penyemaian bibit terong dan lombok.
Sekitar sepekan, bibit yang sudah mulai tumbuh pun dimasukkan dalam polibek dan diberi pupuk mutiara. Dua pekan kemudian, sudah mulai terlihat daun-daun lombok dan terong yang membesar.
"Ini permulaan yang bagus. Kami sangat yakin dan optimis, apa yang kami lakukan akan berhasil," ucap kakek itu.
Gunandi bersama anggotanya semakin optimis. Hasil panen akan diharapkan bisa membantu perekonomian warga setempat. Jika berhasil, Gunandi berencana membesarkan usaha berkebun lombok dan terong tersebut.
Program CSR PT Adaro
Staf CDR PT Adaro Indonesia, Herman Baihaqi didampingi staf Humas, Ikhsan dan Abi menjelaskan, PT Adaro Indonesia yang bergerak di bidang pertambangan melaksanakan kewajibannya untuk membantu warga sekitar aktivitas perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Dana yang dikocek sebesar Rp40 miliar lebih, diantaranya Rp4,2 miliar untuk di Kabupaten Bartim dan Rp4,7 miliar untuk Kabupaten Barito Selatan.
"Program CSR difokuskan untuk tujuh kegiatan, diantaranya ekonomi kerakyatan, pendidikan, kesehatan, pertanian dalam arti luas hingga infrastruktur. Salah satunya yang dibantu adalah Poktan Suka Maju," katanya.
Menurut Herman, pelaksanaan kebun polibek terus dibimbing dan diawasi hingga panen nanti. Hasil panen akan dipasarkan dijual ke pasar dengan perantara Devisi CSR PT AI sendiri.
Selain itu, untuk wilayah Mangkatip sendiri ada dua pengembangan ekonomi kerakyatan yang dibantu. Selain suka maju, ada juga pengrajin rotan yang dibantu.
Dibidang kesehatan, speedboat diperbantukan untuk Puskesmas Mangkatib. Ini dikarenakan tidak ada jalan darat untuk bisa sampai ke Kelurahan Mangkatip. Speedboat itu sebagai sarana transportasi merujuk pasien kritis ke RSUD Buntok maupun RSUD di Tabalong atau Amuntai, Kalsel.
"Yang terbaru ini, melalui CSR PT Adaro, kita juga membantu Puskesmas Mangkatib berupa dana Rp75 juta untuk keperluan akreditasi puskesmas," katanya.
Pewarta : Habibullah
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
