Logo Header Antaranews Kalteng

Pakar China-ASEAN diskusikan AI mutakhir dan tata kelola

Minggu, 25 Januari 2026 22:14 WIB
Image Print
Ilustrasi penggunaan web3. (ANTARA/Pexels/Ron Lach) (ANTARA/Pexels/Ron Lach)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Para ahli dari Tiongkok dan negara-negara ASEAN berkumpul dalam Program Pelatihan Peningkatan Kapasitas AI (AI Capability-Building Training Program) China-ASEAN 2026 dan Seminar Tingkat Tinggi tentang Tata Kelola dan Teknologi Mutakhir AI (High-Level Seminar on AI Frontier Technologies and Governance) untuk membahas kerja sama dan peningkatan kapasitas.

Pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 100 perwakilan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada hari Jumat (23/1) ini bertujuan untuk menemukan titik temu dan bertukar pandangan mengenai teknologi kecerdasan buatan (kecerdasan buatan/AI) mutakhir serta tantangan keamanannya, di tengah perubahan teknologi yang pesat dan kian meningkatkan kekhawatiran terkait tata kelola AI.

Dalam pernyataannya, Hou Zengguang, wakil presiden Asosiasi Automasi China sekaligus profesor dari Institut Automasi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), mengatakan integrasi mendalam antara AI dengan teknologi automasi dan digital sedang membentuk ulang perkembangan perkembangan global serta memberikan pengaruh besar terhadap sektor produksi dan kehidupan sehari-hari.

Hou menuturkan bahwa Tiongkok telah mengumpulkan banyak pengalaman dalam penelitian, pengembangan teknologi, dan penerapan industri di bidang otomasi, yang dapat berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi global.

Sementara itu, direktur sekaligus perwakilan Kantor Regional UNESCO untuk Asia Timur Shahbaz Khan menyebutkan bahwa AI sedang membentuk ulang perindustrian, masyarakat, dan pola kerja sama global.

Meskipun membawa peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya, AI juga menimbulkan tantangan yang luar biasa, paparnya, seraya menambahkan bahwa mendorong kerja sama inklusif serta membangun sistem tata kelola AI yang adil dan setara telah menjadi tugas bersama bagi semua pemangku kepentingan.

Negara-negara ASEAN berada di persimpangan yang sangat penting, kata presiden Federasi Institusi Teknik Asia dan Pasifik Aung Kyaw Myat.Kyaw Myat.

Dia juga menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas AI harus menjadi prioritas.

Sementara itu, presiden Universitas Tunku Abdul Rahman Ewe Hong Tat mengatakan bahwa AI dengan pesat mempengaruhi struktur ekonomi, layanan publik, keamanan nasional, dan kesejahteraan masyarakat.

“Meskipun potensinya sangat besar, AI juga menimbulkan berbagai pertanyaan penting terkait tata kelola, etika, keamanan siber, standar, dan kepercayaan masyarakat. Tantangan-tantangan ini tidak dapat diatasi oleh satu lembaga atau negara saja, dan mereka membutuhkan penyelarasan yang erat antara pemerintah, pembaca, industri, dan mitra internasional,” kata dia.

Dalam seminar itu, diskusi meja bundar juga diadakan untuk membahas peningkatan kapasitas dan pendidikan AI, serta prospek kerja sama AI antara China dan ASEAN.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026