
Kaitan erat asupan bergizi dengan kemampuan kognitif anak

Jakarta (ANTARA) - Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Luthfianti Diana Mauludiyah SGz, RD mengatakan bahwa makanan bergizi memiliki kaitan yang kuat dengan kemampuan kognitif anak.
"Tentu saja ada kaitannya dan sangat kuat, karena otak anak berkembang sangat pesat sejak masa kehamilan hingga usia sekolah, proses ini membutuhkan energi dan zat gizi dengan jumlah tertentu sesuai kebutuhan," ujarnya saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan, jika asupan gizi kurang dan tidak seimbang, pembentukan sel otak, koneksi antar syaraf atau sinaps dan fungsi neurotransmitter bisa terganggu.
Asupan gizi yang kurang optimal, menurutnya mampu menyebabkan berbagai gangguan pada anak yang meliputi gangguan tumbuh kembang bahkan hingga kemampuan belajar yang melambat.
"Beberapa dampak gizi yang kurang optimal, terganggunya tumbuh kembang anak, konsentrasi daya ingat menurun, perkembangan bahasa dan kemampuan belajar lebih lambat, anak mudah lelah dan kesulitan untuk fokus," katanya.
Ia pun menyarankan agar orang tua memberikan asupan yang tepat bagi anak yang meliputi protein untuk mendukung pembentukan sel otak dan neurotransmitter yang bisa didapatkan dari telur, ayam, ikan, daging, tahu, tempe kacang-kacangan, dan susu. Kemudian lemak sehat omega-3 atau DHA alpukat, ikan laut, serta telur.
Kandungan zat besi juga diperlukan untuk mencegah anemia, kandungan ini bisa didapatkan dari konsentrasi hati sapi, susu, daging merah, bayam, kacang-kacangan.
"Dikombinasikan dengan sumber vitamin C agar penyerapan zat besi optimal," tambah dia.
Selain itu, yodium juga diperlukan untuk mendukung perkembangan kecerdasan yang didapatkan dari garam, ikan laut serta makanan yang difortifikasi.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan dampak Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai terasa di daerah di mana siswa lebih aktif belajar dan bisa beraktivitas dengan tubuh yang lebih bugar.
"Dengan adanya MBG, anak-anak selalu semangat masuk sekolah. Di daerah-daerah, mereka kelihatannya lebih aktif belajar dan ketika beraktivitas, badannya kelihatan lebih kuat dan jarang sakit," katanya dalam siniar yang diikuti di Jakarta, Selasa (20/1).
Dadan menyebutkan MBG telah menjangkau kurang lebih 58 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga anak sekolah usia PAUD-SMA.
Pewarta : Sinta Ambarwati
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
