
Kalbe perkuat lab nasional demi eliminasi TB

Jakarta (ANTARA) - PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya PT KalGen DNA (KalGen DNA) mendukung penguatan kapasitas laboratorium di Indonesia Timur dalam percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC).
"Kami berfokus pada pelatihan penerapan pemeriksaan TB berbasis teknologi real-time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang menggunakan INDIGEN TB agar dapat meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan di Indonesia Timur dan memperkuat sistem diagnostik tuberkulosis yang masih menjadi tantangan,” ujar Direktur PT KalGen DNA Wahyu Retno Ambarwati dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
Perusahaan itu mengadakan lokakarya pemeriksaan INDIGEN TB PC yang diikuti oleh 50 tenaga laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Makassar. INDIGEN TB dikembangkan dan diproduksi secara lokal di Indonesia dan berbasis metode PCR sehingga dapat memanfaatkan mesin PCR yang sebelumnya digunakan untuk tes COVID-19.
Hal itu diharapkan dengan semakin banyak tenaga laboratorium yang memiliki keahlian mengoperasikan pemeriksaan TB berbasis teknologi aktual PCR dengan INDIGEN TB, target eliminasi TBC di Indonesia dan masyarakat yang lebih sehat dapat terwujud dengan lebih cepat.
Kepala BBLKM Makassar Dr. dr. Irene, M.K.M. mengapresiasi PT KalGen DNA yang telah mendukung pelaksanaan pelatihan RT-PCR open system untuk wilayah Indonesia Timur di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Makassar I.
"Tujuan dari pelatihan ini adalah agar seluruh tenaga laboratorium di wilayah Indonesia Timur mampu melakukan pemeriksaan TB berbasis RT-PCR open system sehingga dapat meningkatkan ketahanan kesehatan," dokter Irene.
INDIGEN TB tidak hanya mendukung pengoptimalan hasil pemeriksaan TB yang lebih cepat untuk banyak sampel dalam satu kali proses.
INDIGEN TB juga dapat mendeteksi empat target gen sekaligus, yaitu Mycobacterium tuberculosis (MTB), Nontuberculous Mycobacteria (NTM), serta resistensi terhadap dua obat utama anti-TB: Rifampisin dan Isoniazid. Alhasil, INDIGEN TB juga membantu dokter memberikan pengobatan TBC yang tepat dan efektif, sehingga dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Pada 2025, Indonesia menduduki peringkat kedua dunia untuk kasus TBC dengan kecepatan penularan TB yang lebih tinggi daripada India yang berada di posisi pertama.
Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan seluruh pihak untuk memastikan akselerasi eliminasi TBC nasional tahun 2030, di antaranya melalui pemeriksaan yang tepat, pengobatan yang tepat, dan mengobatinya hingga tuntas.
Pewarta : Sri Dewi Larasati
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
