
Deteksi dini aritmia lebih efektif dengan metode MENARI

Jakarta (ANTARA) - Metode MENARI atau meraba nadi sendiri dinilai menjadi cara sederhana dan efektif untuk membantu deteksi dini gangguan irama jantung, khususnya fibrilasi atrium, yang berisiko tinggi memicu stroke.
Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus dewan pengawas Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) atau Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI) Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA mengatakan metode tersebut dapat dilakukan mandiri oleh masyarakat sebagai langkah skrining awal sebelum pemeriksaan medis lanjutan.
“Meraba nadi sendiri selama minimal 30 detik dapat membantu menemukan denyut yang tidak teratur. Itu tanda paling penting dari fibrilasi atrium,” kata Profesor Yoga dalam paparan konferensi pers Pulse Day 2026 dengan tema "Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat”, di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jumat.
Ia menjelaskan metode MENARI dilakukan dengan meletakkan dua jari di pergelangan tangan sisi ibu jari, lalu merasakan dan menghitung denyut nadi selama 30 detik. Denyut kemudian dikalikan dua untuk memperoleh perkiraan denyut per menit sekaligus menilai keteraturan irama.
Menurut dia, denyut yang terasa tidak teratur, hilang timbul, atau berubah-ubah perlu diwaspadai dan harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan elektrokardiogram atau EKG di fasilitas kesehatan.
Penggagas metode MENARI itu mengatakan pemeriksaan nadi mandiri bukan alat diagnosis, namun berfungsi sebagai penyaring awal. Sejumlah studi menunjukkan perabaan nadi mandiri memiliki kemampuan deteksi yang cukup baik dibandingkan EKG sebagai standar konfirmasi.
Kampanye metode MENARI menjadi bagian dari rangkaian Pulse Day 2026 yang mengajak masyarakat lebih peduli terhadap irama jantung melalui deteksi dini berbasis komunitas.
Kegiatan ini melibatkan jejaring organisasi aritmia global dan nasional, termasuk Asia Pacific Heart Rhythm Society dan InaHRS, untuk memperluas edukasi skrining gangguan irama jantung.
Ia juga menambahkan metode tersebut dinilai relevan untuk Indonesia karena mudah diajarkan, tidak membutuhkan alat, dan dapat diterapkan di daerah dengan keterbatasan sumber daya.“Deteksi dini diikuti pemeriksaan dan terapi yang tepat dapat menurunkan risiko stroke secara bermakna pada pasien fibrilasi atrium,” ujarnya.
Pewarta : Farika Nur Khotimah
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
