Logo Header Antaranews Kalteng

Mengenal skrining pendengaran anak sejak dini

Kamis, 5 Maret 2026 13:43 WIB
Image Print
Ilustrasi anak memegang telinga. (ANTARA/Pexels/Towfiqu Barbhuiya)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K) mengenalkan cara kerja skrining pendengaran untuk anak sejak dini agar mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Skrining pendengaran pada anak sejak dini menurutnya penting dilakukan agar dapat menjaga kualitas hidup anak termasuk mendukung fungsi komunikasinya.

"Jadi mulai anak usia dua hari itu sudah bisa melakukan skrining pendengaran. Kita bisa melakukan pemeriksaan dengan dua alat yaitu OAE atau Otoaucoustic Emissions dan BERA atau Brainstem Evoked Response Audiometry," kata dokter Fikry dalam siaran langsung yang diikuti di Jakarta, Rabu.

Kedua alat itu nantinya akan menampilkan hasil pengetesan dalam bentuk "pass" dan "refer". Untuk hasil "pass" mengindikasikan tidak ada masalah pendengaran, sementara hasil "refer" mengindikasikan adanya potensi masalah pada organ pendengaran.

Secara lebih rinci, dokter Fikry menjelaskan tujuan dari masing-masing skrining. Ia mengatakan skrining pendengaran yang umum ditemukan di fasilitas kesehatan adalah OAE.

Skrining OAE secara khusus menargetkan pemeriksaan pada fungsi sel rambut di bagian koklea atau rumah siput yang ada di dalam telinga.

Hasil tes OAE tidak serta merta menegaskan kondisi gangguan pendengaran pada anak karena skrining ini hanya memeriksa kondisi koklea sehingga dibutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Sementara untuk BERA, skrining ini secara definisi mengukur respons listrik otak terhadap suara.

"BERA sendiri adalah pemeriksaan untuk melihat ambang dengarnya di bayi tersebut. Apakah mengalami suatu gangguan atau tidak," kata dokter Fikry.

Hasil skrining dari kedua alat itu tidak langsung menentukan bahwa anak mengalami gangguan pendengaran atau tidak, hal itu dikarenakan anak dengan hasil "refer" harus melewati tahapan "1,3,6" terlebih dahulu.

Setelah melewati skrining di satu bulan pertama kehidupannya, apabila mendapatkan hasil "refer" nantinya anak akan kembali menjalan skrining ulang. Pemantauan atau observasi fungsi pendengaran pada anak dilanjutkan oleh dokter hingga usia anak mencapai enam bulan.

"Di usia enam bulan itu kita baru bisa mendiagnosis apakah anak ini benar-benar mengalami gangguan tuli sejak lahir atau tidak. Sehingga seandainya ditemukan kita bisa melakukan langsung rehabilitasi pada usia enam bulan tersebut," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Rehabilitasi dari usia dini terhadap masalah pendengaran itu diharapkan mampu menjaga kualitas hidup anak karena itu artinya fungsi tubuh dan komunikasinya tetap dapat terjaga.

Beberapa rehabilitasi yang dilakukan di antaranya terapi mendengar (AVT/Auditory Verbal Therapy), pemasangan alat bantu dengar, hingga implan koklea.

Memastikan fungsi pendengaran anak sejak dini sejalan dengan tema nasional yang diangkat Indonesia dalam memperingati World Hearing Day atau Hari Pendengaran Sedunia di 2026 yaitu "From communities to classrooms:hearing care for all children" (Dari komunitas ke kelas:layanan pendengaran untuk semua anak).

Tema ini diangkat karena masalah pendengaran pada anak kerap menimbulkan beragam masalah apabila tidak diatasi dengan tepat mulai dari gangguan tumbuh kembang hingga gangguan interaksi sosial.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan mengacu pada hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 31 Desember 2025, ada 18,6 juta orang berusia tujuh tahun ke atas yang mengikuti skrining pendengaran dan didapati 1,8 persen memiliki gangguan kesehatan di telinganya.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026