Logo Header Antaranews Kalteng

Nanoskopi baru temukan jaringan komunikasi sel tersembunyi untuk deteksi penyakit

Selasa, 19 Mei 2026 21:46 WIB
Image Print
Ebola. ANTARA/HO - Kemenkes (Kemenkes)

Canberra (ANTARA) - Para ilmuwan telah mengembangkan teknik nanoskopi baru yang mengungkap jaringan tersembunyi yang digunakan untuk komunikasi antar sel, membuka jalan baru untuk memahami penyakit manusia.

Dengan terobosan ini, para peneliti dapat mengamati cara sel hidup berinteraksi dengan lingkungannya selama beberapa hari, mengungkap perilaku tiga dimensional yang sebelumnya tidak terlihat dengan mikroskop konvensional, demikian menurut sebuah pernyataan yang dirilis baru-baru ini oleh Universitas Nasional Australia (Australian National University/ANU).

"Menggunakan pencitraan yang lembut dan nirlabel, kami akhirnya dapat menyaksikan kehidupan sel yang tersembunyi dan dinamis secara real time dan tiga dimensional," kata peneliti senior dalam studi ini, Steve Lee dari John Curtin School of Medical Research ANU, demikian warta Xinhua.

"Teknik ini memungkinkan terobosan yang lebih cepat dan lebih akurat dalam cara kita memahami dan mengobati penyakit manusia pada skala nano," kata Lee, seraya menambahkan bahwa teknik ini menghindari "label" kimiawi yang biasa digunakan dalam nanoskopi yang dapat merusak sel melalui fototoksisitas.

Metode nanoskopi baru, RO-iSCAT, bertujuan untuk mengamati perpanjangan sel yang tipis dan menyerupai benang dalam skala nano pada resolusi yang melampaui mikroskop konvensional, ungkap studi yang telah diterbitkan di jurnal Nature Communications tersebut.

Melalui pencitraan kontinu selama beberapa hari, struktur-struktur tersebut terlihat memanjang, menyusut, dan terhubung kembali, membentuk jaringan rumit yang mentransfer pesan biokimia ke sel-sel tetangga, menantang pandangan sebelumnya yang didasarkan pada citra-citra statis, urai para peneliti.

Temuan ini dapat meningkatkan pemahaman tentang bagaimana penyakit berkembang, termasuk menyelidiki bagaimana sel kanker pankreas dan sel pembuluh darah manusia membentuk banyak jembatan "ketat" dengan jaringan di sekitarnya, yang berpotensi membantu pertumbuhan tumor dan resistansi terhadap pengobatan, kata para peneliti.

Metode ini juga dapat membantu para ilmuwan memahami cara virus berpindah antarsel, karena beberapa virus diduga menyebar melalui jembatan seluler tersebut. Selain itu, metode ini juga dapat membantu mengembangkan strategi pemberian obat yang lebih tepat.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026