Jakarta (ANTARA
News) - Anggota Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi, Selasa, mengatakan
kenaikan harga bahan pokok terjadi karena hari-hari besar agama.
"Psikologi
pasar bahwa setiap hari-hari besar agama terjadi kenaikan harga.
Kemudian setelah itu harganya akan normal kembali," kata Viva kepada
ANTARA News di Jakarta, Selasa.
Namun, jika kenaikan harga itu
lebih dari 30 persen maka itu sudah disebut ada ketidakseimbangan
ekstrem antara penawaran dan permintaan yang tidak diimbangi oleh
pasokan yang cukup, kata dia.
Viva menilai sistem dan mekanisme
distribusi barang yang inefisien memicu tingginya biaya transportasi,
lambannya birokrasi bea cukai sehingga proses pengeluaran barang di
pelabuhan menjadi lama, di samping karena rusaknya sarana dan prasarana
transportasi.
Dia menduga telah terjadi kartelisasi oleh
sekelompok pengusaha yang berkonspirasi dengan oknum pemerintah, untuk
mengontrol pasokan bahan pangan ke pasar dan mengendalikan harga.
"Pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pangan tidak kuasa dan tidak berdaya sama sekali," sambung dia.
Dia
meyebut kelambanan ini terjadi karena liberalisasi perdagangan dan
pasar bebas memposisikan kaum pemodal besar sebagai pemenang kompetisi
bebas sehingga mengontrol sirkulasi barang dan harga.
Penyebab lainnya adalah pemerintah tidak memiliki stok pangan, kata Viva.
Dia mendesak pemerintah segera merereformasi sektor pertanian.
"Negara harus mengendalikan harga pangan guna melindungi petani. Artinya, tidak boleh dilepas di pasar bebas. Harus ada intervensi target="_blank">," kata dia.
Hari Raya Dianggap Picu Kenaikan Harga
Selasa, 16 Juli 2013 14:27 WIB
Wakil Ketua Fraksi PAN DPR Viva Yoga Mauladi (ANTARA/Widodo S. Jusuf), Istimewa
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026